SURABAYA - Harga cabai rawit kembali meningkat.
Bahkan di sejumlah daerah di Jawa Timur, harga mencapai Rp 60.000 lebih per kilogramnya.
Hal ini disebabkan gagal panen akibat El Nino.
Meski demikian petani cabai mengaku tidak mendapatkan untung pada panen kali ini.
"Bagaimana bisa untung Mas, lha wong gagal panen. Banyak tanaman cabai kami yang kering, jadi panenannya tidak banyak," Wakil Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jatim Nanang Triatmoko kepada Radar Surabaya, Rabu (25/10).
Nanang mengatakan selisih harga cabai rawit dari petani dan harga di pasaran tidak banyak.
Jika harga pasar Rp 57.000 per kg, maka harga dari petani Rp 55.000 per kg.
"Ini karena memang biaya produksinya tinggi dan musim panas yang berkepanjangan. Sehingga banyak tanaman cabai yang kering," katanya.
Berdasarkan data Sistem Informasi dan Ketersediaan Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jatim, harga rata-rata komoditas cabai rawit di Jawa Timur adalah Rp 55.985 per kg.
Harga rata-rata tertinggi di Kota Pasuruan Rp 66.300 per kg.
Dan harga rata-rata terendah di Kabupaten Probolinggo Rp 36.666 per kg.
Sementara harga komoditas ini di sejumlah pasar besar di Surabaya mencapai Rp 45.000 hingga Rp 55.000 per kg.
Untuk Pasar Pucang Anom, harga cabai Rp 45.000 per kg, Pasar Keputran dan Tambahrejo Rp 46.000 per kg.
Kemudian Pasar Genteng dan Soponyono Rp 50.000 per kg.
Sedangkan di Pasar Wonokromo, harga cabai Rp 55.000 per kg.
Untuk komoditas cabai merah besar juga mengalami kenaikan harga.
Yakni harga rata-rata Jawa Timur adalah Rp 31.766 per kg.
Harga rata-rata tertinggi di Kabupaten Ngawi Rp 41.666 per kg.
Sedangkan harga rata-rata terendah di Kabupaten Bangkalan Rp 20.666 per kg.
Untuk di Pasar Besar di Surabaya harga komoditas ini Rp 25.000 - Rp 28.000 per kg.
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Petanian dan Ketahanan Pangan Jatim Dydik Rudy Prasetya mengatakan produksi cabai rawit sampai dengan September mencapai 455.044 ton.
Dengan konsumsi untuk rumah tangga sebesar 62.217 ton, sehingga ketersediaan surplus sebesar 392.827 ton.
"Sedangkan ketersediaan selama tahun 2023 diperkirakan surplus sebesar 500.015 ton," katanya.
Kemudian produksi cabai besar sampai dengan September mencapai 65.223 ton.
Dengan konsumsi untuk rumah tangga sebesar 57.465 ton, sehingga ketersediaan surplus sebesar 7.758 ton.
"Sedangkan ketersediaan selama tahun 2023 diperkirakan surplus sebesar 12.161 ton," ujarnya.
Rudy menambahkan perkembangan harga komoditas cabai rawit merah pada tanggal 24 Oktober mengalami kenaikan harga lebih dari sangat tinggi pada minggu IV bulan Oktober dibandingkan dengan bulan September.
"Besarnya kenaikan harga yang terjadi yaitu sebesar 123,95 persen. Jika dibandingkan dengan harga pada minggu sebelumnya, harga pada minggu IV bulan Oktober 2023 juga mengalami kenaikan namun hanya sebesar 17,74 persen," terangnya.
Menurutnya kenaikan harga cabai rawit disebabkan oleh panenan dataran rendah sudah habis dan untuk dataran tinggi mulai tanam.
Apabila dibandingkan dengan produksi cabai rawit pada periode yang sama pada tahun 2022, produksi pada tahun 2023 mengalami penurunan.
"Hal ini juga menjadi penyebab harga cabai rawit mengalami penurunan," ungkapnya.
Untuk komoditas cabai merah besar, lanjut Rudy, mengalami kenaikan harga relatif terkendali pada minggu IV bulan Oktober per tanggal 24 Oktober dibandingkan dengan bulan September.
Besarnya kenaikan harga yang terjadi yaitu sebesar 0,68 persen.
Jika dibandingkan dengan harga pada minggu sebelumnya, harga pada minggu IV bulan Oktober 2023 mengalami kenaikan sebesar 18,68 persen.
"Kenaikan harga cabai besar ini disebabkan oleh pasokan cabai besar dari produsen/petani sampai bulan September mengalami defisit," pungkasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa