Keberadaan Makam Bupati Surabaya Raden Kromodjojodirono di kawasan Pesarean Bibis sejak dahulu memang dikenal angker. Namun, kini keangkeran itu sudah berkurang. Karena sudah berdiri masjid yang besar dan pohon beringinnya sudah ditebang. Namun kendati begitu masih ada peraturan yang tak boleh dilanggar oleh warga sekitar atau pengunjung makam.
Moh Mahrus-Wartawan Radar Surabaya
Menurut cerita penjaga makam, Mujiono, bahwa makam Bupati Surabaya sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu memiliki peraturan-peraturan yang ketat. Salah satunya adalah mengenai peraturan masuk makam.
"Sudah sejak dahulu sebenarnya sudah ada aturan itu. Seperti masuk makam dengan jalan jongkok. Namun selain itu juga ada peraturan lain yang harus dipatuhi warga," ujar Mujiono kepada Radar Surabaya.
Mujiono menambahkan, salah satu peraturan yang masih dipegang sampai saat ini adalah mengenai larangan tidak boleh menjemur baju di atas sekeliling pagar makam. Karena, saat ini kawasan makam sudah dikelilingi perumahan warga yang umumnya memiliki lantai dua.
"Jadi disini pernah ada dahulu warga yang kesurupan karena menjemur baju lewat pagar pembatas makam," ungkapnya.
Tak hanya warga, saat itu juga pengurus masjid juga kerasukan. Kemudian pengurus masjid berkata bahwa jangan pernah mengotori makam atau menjemur baju di atas tembok pembatas makam. "Dari kejadian itu kemudian hingga saat ini warga tetap memegang teguh aturan itu," ungkapnya.
Selain itu, lanjut Mujiono, ada larangan lain yang hingga kini tidak boleh dilanggar di area makam tua ini. "Larangan itu yaitu meminta-meminta barang atau jimat di sini. Ini bukan tempat untuk minta-minta. Tapi ini makam para bangsawan dan kiai," tuturnya.
Diterangkan oleh Mujiono bahwa pernah suatu kali ada seseorang yang datang ke makam pada malam hari. Kemudian seseorang itu melakukan semedi dan minta-minta jimat. Sepulangnya warga itu tidak dapat apa-apa, namun malah menjadi sakit. "Dari kejadian itu kemudian menjadi pelajaran bahwa siapa saja orang yang datang kesini tidak boleh main-main atau minta aneh-aneh," tuturnya.
Tak hanya itu, warga atau pengunjung lain yang datang sampai saat ini juga dilarang keras mengeluarkan kata-kata sombong atau bertingkah angkuh. "Jadi ini makam para kiai dan bangsawan yang masih keturunan orang alim. Kami harap warga atau pengunjung juga ikut menjaga makam dan tidak bertingkat laku yang aneh-aneh," kata dia.
Editor : Administrator