RADAR SURABAYA - Jepang tengah dilanda gelombang panas ekstrem, bahkan suhunya bisa mencapai 40 derajat Celsius. Untuk menyebut hari dengan suhu panas ekstrem tersebut, warga Jepang mengenalkan istilah baru.
Japan Meteorological Agency (JMA) resmi memperkenalkan istilah “kokushobi”, yang berarti “panas kejam” atau “panas brutal,” sebagai penanda kondisi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.
Istilah kokushobi pertama kali diperkenalkan oleh media Jepang dan kemudian dipilih sebagai istilah paling populer dalam jajak pendapat nasional daring.
Baca Juga: Baru Dibuka Beberapa Jam, Selat Hormuz Kembali Ditutup, 2 Kapal Ditembak Karena Nekat Melintas
Dari 13 opsi yang ditawarkan, kokushobi unggul atas istilah lain seperti “super extremely hot day”. Jajak pendapat yang digelar Februari–Maret 2026 melibatkan sekitar 478 ribu responden.
“Kami ingin masyarakat lebih memahami betapa seriusnya ancaman gelombang panas. Kata ‘koku’ dalam bahasa Jepang berarti keras atau kejam, sesuai dengan tingkat panas yang dirasakan,” ujarnya salah satu pejabat dikutip Japan Times.
Fenomena cuaca ekstrem seperti gelombang panas semakin sering terjadi di berbagai belahan dunia.
Menurut laporan BBC, kondisi ini dipicu oleh aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil.
Musim panas 2025 tercatat sebagai yang terpanas sejak pencatatan dimulai pada 1898, dengan suhu rata-rata nasional 2,36 derajat Celsius di atas normal.
Rekor suhu tertinggi nasional tercatat di Kota Isesaki dengan 41,8 derajat Celsius. Tokyo mengalami 25 hari dengan suhu di atas 35 derajat Celsius, jauh di atas rata-rata tahunan 4,5 hari. Kyoto bahkan mencatat 52 hari dengan suhu serupa, dibandingkan rata-rata 18,5 hari.
Baca Juga: Ribuan Peserta Ramaikan Surabaya Domino Tournament 2026, Dongkrak UMKM dan Pariwisata Kota
Seorang peneliti iklim dari Universitas Kyoto, Dr. Haruto Tanaka, menegaskan bahwa istilah kokushobi bukan sekadar label baru, melainkan peringatan keras.
“Gelombang panas ekstrem adalah bukti nyata krisis iklim. Istilah ini diharapkan meningkatkan kesadaran publik bahwa kita sedang menghadapi ancaman serius terhadap kesehatan dan keselamatan manusia,” katanya.
JMA memperkirakan peluang besar suhu di atas normal akan kembali terjadi sepanjang Juni hingga Agustus 2026, menegaskan bahwa gelombang panas ekstrem masih akan berlanjut. (dtk/nur)
Editor : Nurista Purnamasari