RADAR SURABAYA - Pertemuan antara Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pada Jumat, 28 Maret, di Jakarta menjadi sorotan di tengah meningkatnya ketegangan global akibat konflik di Asia Barat. Diskusi kedua pemimpin tersebut dinilai penting untuk merespons situasi dunia yang kian tidak menentu, terutama setelah eskalasi serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari 2026 lalu.
Prabowo dan Anwar diketahui memiliki hubungan persahabatan yang telah terjalin lama, jauh sebelum keduanya menduduki jabatan sebagai pimpinan pemerintahan di negara masing-masing. Keduanya juga telah beberapa kali bertemu dalam berbagai forum internasional maupun kunjungan bilateral, sehingga komunikasi yang terjalin berlangsung hangat dan terbuka.
Baca Juga: Sejarah Lebaran Ketupat: Tradisi Wali Songo yang Menjadi Simbol Syukur dan Kebersamaan
Dalam pertemuan terbaru ini, Presiden Prabowo merasa perlu melakukan pembahasan khusus dengan Anwar Ibrahim yang di negaranya dikenal dengan sebutan PMX atau Perdana Menteri ke-10. Langkah ini diambil sebagai upaya memperkuat koordinasi regional dalam menghadapi dampak konflik global yang mulai memengaruhi sektor energi, keamanan, hingga stabilitas ekonomi.
Anwar Ibrahim menyampaikan bahwa pertemuan tersebut membuka ruang konstruktif untuk mencari titik persamaan dalam menyikapi konflik Asia Barat. Ia menekankan pentingnya memperkuat kesepaduan regional yang berprinsip guna menjaga keamanan dan kestabilan ekonomi demi kesejahteraan masyarakat di kedua negara.
Selain itu, kedua pemimpin sepakat untuk mempergiat upaya diplomasi dalam meredakan konflik, melindungi warga sipil, serta membuka jalan menuju penyelesaian damai yang berkelanjutan. Mereka juga menyoroti pentingnya menjaga kelangsungan rantai pasok global dan jalur perdagangan strategis, termasuk Selat Hormuz, agar tidak terganggu oleh situasi geopolitik.
Dalam kesempatan tersebut, Anwar turut mengungkapkan bahwa dirinya telah berkomunikasi dengan sejumlah pemimpin dunia sebagai bagian dari upaya menyelaraskan pandangan dan memperkuat solidaritas internasional. Fokus utama pembahasan mencakup dampak konflik terhadap sektor energi dan keamanan kawasan.
Malaysia, lanjut Anwar, tetap berpegang pada prinsip menolak kekerasan, menjunjung tinggi hukum internasional, serta mendorong semua pihak untuk kembali ke jalur diplomasi dan perdamaian. Pertemuan ini menegaskan posisi Indonesia dan Malaysia sebagai dua negara serumpun yang berkomitmen menjaga stabilitas kawasan di tengah tekanan global yang semakin kompleks. (*)
Editor : Lambertus Hurek