Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kontroversi Dokumenter Melania Trump: Mick Jagger Bantah Lisensi Lagu hingga Rating Buruk

Nurista Purnamasari • Kamis, 5 Maret 2026 | 08:50 WIB

Film dokumenter Melania Trump memicu sejumlah kontroversi, termasuk penolakan penggunaan lagu oleh sejumlah musisi.
Film dokumenter Melania Trump memicu sejumlah kontroversi, termasuk penolakan penggunaan lagu oleh sejumlah musisi.

RADAR SURABAYA - Proyek dokumenter tentang Melania Trump kembali menuai sorotan setelah klaim keterlibatan Mick Jagger dalam lisensi lagu Gimme Shelter dipublikasikan oleh produser film, Marc Beckman.

Namun, pihak The Rolling Stones segera membantah kabar tersebut, menegaskan bahwa band sama sekali tidak terlibat dalam kesepakatan lisensi.

“Kesepakatan lisensi dibuat secara eksklusif antara pemegang hak cipta ABKCO dan produser Melania. Band sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal itu,” ujar perwakilan resmi The Rolling Stones, dikutip dari The Guardian, Rabu (4/3).

Hak atas katalog rekaman Rolling Stones sebelum tahun 1971, termasuk Gimme Shelter, Satisfaction, dan Sympathy for the Devil, dikuasai oleh perusahaan ABKCO milik mendiang Allen Klein.

Sejak awal 1970-an, ABKCO memiliki wewenang penuh untuk melisensikan lagu-lagu tersebut tanpa persetujuan langsung dari personel band.

Meski hubungan antara band dan ABKCO membaik dalam 50 tahun terakhir, penggunaan karya untuk kepentingan politik tetap menjadi isu sensitif.

Bantahan keras Mick Jagger diyakini juga dipicu oleh sejarah panjang perseteruan Rolling Stones dengan Donald Trump, yang kerap menggunakan lagu mereka dalam kampanye politik meski sudah dilarang.

Guns N’ Roses dan Musisi Lain Ikut Menolak

Selain Rolling Stones, Beckman mengungkapkan bahwa Guns N’ Roses juga menolak mentah-mentah karya mereka digunakan dalam dokumenter Melania Trump. Penolakan ini disebut terjadi karena perbedaan sikap politik di internal band.

“Ada musik yang coba kami dapatkan, tetapi sayangnya ada unsur politik di dalamnya. Guns N’ Roses terpecah secara politik, sehingga tidak ada kesepakatan bulat,” kata Beckman dalam wawancara dengan Variety.

Sikap keras Guns N’ Roses, terutama dari vokalis Axl Rose, memang bukan hal baru. Selama satu dekade terakhir, ia kerap melontarkan kritik pedas terhadap Donald Trump melalui media sosial.

Pada 2018, Axl bahkan menuding tim kampanye Trump menggunakan celah hukum untuk memutar lagu mereka di rapat umum tanpa izin.

Selain Guns N’ Roses, pihak ahli waris Prince juga menolak keras, menegaskan sang legenda tidak ingin karyanya dikaitkan dengan Donald Trump. Penyanyi asal Jamaika, Grace Jones, turut menolak dengan alasan serupa.

Isi Soundtrack Dokumenter

Meski banyak penolakan, Beckman memastikan soundtrack dokumenter tetap diisi oleh nama besar lain seperti Michael Jackson, Aretha Franklin, dan Elvis Presley.

Namun, absennya sejumlah musisi yang menolak memperlihatkan betapa sensitifnya isu politik dalam dunia musik.

Sementara itu, film dokumenter Melania, yang mengisahkan tentang kehidupan Melania Trump di 20 hari menjelang pelantikan suaminya sebagai Presiden AS untuk periode kedua, diterima sangat buruk oleh para kritikus dan penonton di platform rating film.

Film ini memiliki skor hanya sekitar 1.3/10 di IMDb, menjadikannya salah satu film dengan rating terendah di situs tersebut saat ini.

Selain itu, Melania juga mendapat ulasan sangat negatif dari para kritikus film, dengan skor hanya sekitar 10–11% di Rotten Tomatoes dan nilai sangat rendah di Metacritic, menunjukkan mayoritas kritikus tidak merekomendasikan film ini.

Kritik utama yang muncul menyebut film ini terlalu datar, terasa seperti propaganda politik, dan gagal memberikan wawasan mendalam tentang tokoh yang diangkat, meskipun diproduksi dengan anggaran besar (diperkirakan sekitar USD 75 juta). (nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#Guns N’ Roses #film dokumenter #rating film #dokumenter Melania Trump #the rolling stones #melania trump #mick jagger