Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Perang Logam Tanah Jarang Makin Memanas, India Susun Strategi Lepas dari Dominasi China

Rahmat Adhy Kurniawan • Selasa, 3 Maret 2026 | 23:21 WIB

 

Contoh mineral tanah jarang (dari kiri ke kanan) oksida cerium, bastnasite, oksida neodymium, dan karbonat lantanum, di Molycorp Mountain Pass Rare Earth di Mountain Pass, California,
Contoh mineral tanah jarang (dari kiri ke kanan) oksida cerium, bastnasite, oksida neodymium, dan karbonat lantanum, di Molycorp Mountain Pass Rare Earth di Mountain Pass, California,

RADAR SURABAYA – Persaingan global memperebutkan logam tanah jarang kian tajam. Di tengah dominasi China dalam rantai pasok mineral kritis dunia ini,

India mulai menyusun langkah strategis melalui pembangunan Koridor Logam Tanah Jarang (Rare Earth Corridor) untuk memperkuat kemandirian industri dan keamanan pasokan nasional.

Logam tanah jarang (Rare Earth) merupakan komponen vital bagi kendaraan listrik (electric vehicle/EV), turbin angin, semikonduktor ponsel pintar, hingga sistem pertahanan modern.

Meski pasar hulunya relatif kecil dibandingkan minyak dan gas, dampak hilirnya sangat besar terhadap industri teknologi dan militer global.

Cadangan Besar, Produksi Masih Minim

India tercatat memiliki cadangan logam tanah jarang terbesar ketiga di dunia, mencapai 6,9 juta ton. Namun, kontribusinya terhadap produksi global masih di bawah 1 persen.

Sebaliknya, China menguasai sekitar 60 persen produksi tambang global dan 91 persen kapasitas pemurnian, menjadikannya pemain dominan dalam rantai nilai industri ini.

Dominasi tersebut semakin terasa ketika Beijing membatasi ekspor logam tanah jarang dan produk turunannya pada 2025.

Kebijakan itu sempat memicu gangguan pasokan global dan menghentikan lini produksi sejumlah produsen otomotif internasional.

Ketergantungan India terhadap China juga cukup tinggi. Pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2025, India mengimpor sekitar 80–90 persen magnet logam tanah jarang dari China dengan nilai mencapai US$190 juta (Rp.3, 23 triliun). 

Strategi Koridor Logam Tanah Jarang

Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, pemerintah India merancang Koridor Logam Tanah Jarang yang membentang dari Odisha, Kerala, Andhra Pradesh, hingga Tamil Nadu.

Koridor ini dirancang sebagai ekosistem terintegrasi, mulai dari penambangan oksida hingga produksi magnet permanen jadi (finished magnets).

Pemerintah India menilai magnet berbasis logam tanah jarang sebagai komponen “sangat penting” karena menjadi inti motor kendaraan listrik dan berbagai sistem pertahanan.

Selain itu, India membentuk Khanij Bidesh India Limited (KABIL) pada 2019 guna mengamankan aset mineral strategis di luar negeri.

Pada 2024, KABIL menandatangani perjanjian eksplorasi lithium di Argentina dan menjajaki peluang serupa di Australia.

 

Tantangan Teknologi dan Lingkungan

Meski memiliki cadangan besar, India menghadapi tantangan signifikan dalam pengolahan. Logam tanah jarang tidak ditemukan dalam bentuk bebas, melainkan terikat dalam mineral seperti monazite yang mengandung thorium, unsur radioaktif.

Keberadaan thorium membuat proses penambangan dan pemrosesan berada di bawah regulasi ketat otoritas energi atom.

Kondisi ini membatasi partisipasi sektor swasta di tahap hulu dan memperlambat pengembangan industri.

Logam tanah jarang juga terbagi menjadi jenis ringan dan berat. India relatif kaya jenis ringan seperti neodymium dan praseodymium.

Namun, jenis berat seperti dysprosium dan terbium—yang krusial untuk magnet canggih—masih terbatas. Saat ini, sekitar 60–70 persen pasokan logam tanah jarang berat global berasal dari Myanmar dan diproses di China.

Pemrosesan Jadi Kunci

Para pakar menilai tantangan utama bukan pada penambangan, melainkan pemrosesan. Proses pemisahan logam tanah jarang membutuhkan

teknologi metalurgi kompleks, seperti pelindian asam dan ekstraksi pelarut yang sangat terpersonalisasi untuk tiap deposit.

China unggul karena telah mengembangkan teknologi ini selama puluhan tahun. Sementara itu, India masih bergantung pada teknologi asing untuk produksi paduan dan magnet.

Pada November 2025, pemerintah India menyetujui skema manufaktur Rare Earth Permanent Magnet (REPM) senilai 72,8 miliar rupee dengan target produksi 6.000 ton magnet per tahun selama tujuh tahun. Skema ini juga menawarkan subsidi untuk menarik investasi swasta.

Menghindari Perang Harga

Analis memperingatkan kemungkinan China menekan harga logam tanah jarang untuk melemahkan pesaing baru.

Untuk mengantisipasi strategi tersebut, India mempertimbangkan mekanisme harga dasar guna melindungi produsen domestik dari fluktuasi ekstrem.

Secara global, pasar logam tanah jarang diproyeksikan bernilai US$7,8 miliar (Rp.132,6 triliun) pada 2026 dan meningkat menjadi US$15,4 miliar (Rp.261,7 triliun) pada 2033.

Meski nilainya lebih kecil dibandingkan industri semikonduktor yang telah melampaui US$600 miliar (Rp.10.197 triliun) , peran strategis logam tanah jarang dalam teknologi masa depan tidak dapat diabaikan.

Butuh Waktu 8–10 Tahun

Pengembangan rantai pasok logam tanah jarang di India diperkirakan membutuhkan waktu delapan hingga 10 tahun.

Investasi berkelanjutan, kebijakan konsisten, serta penguatan riset dan teknologi domestik menjadi kunci keberhasilan.

Bagi India, pembangunan Koridor Logam Tanah Jarang bukan sekadar proyek industri, melainkan strategi jangka panjang untuk memperkuat

ketahanan nasional dan mengurangi kerentanan terhadap dominasi China dalam persaingan geopolitik teknologi global.(rak)

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan