Warga AS Terbelah soal Penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Survei Ungkap Fakta Mengejutkan
Rahmat Adhy Kurniawan• Selasa, 6 Januari 2026 | 10:44 WIB
Presiden Venezuela Nicolas Maduro turun dari helikopter saat menuju Pengadilan Federal Manhattan di New York pada 5 Januari 2026 (WABC via AP).
Amerika Serikat Terpecah Menyikapi Operasi Penculikan Maduro
RADAR SURABAYA - Amerika Serikat menghadapi perpecahan opini publik setelah operasi militer yang menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro memicu polemik global.
Dikutip dari Al Jazeera, survei terbaru Reuters/Ipsos yang dirilis Senin (6/1) mengungkapkan bahwa masyarakat AS hampir seimbang dalam menyikapi tindakan tersebut.
Sebanyak 33 persen responden mendukung penculikan Maduro, sementara 34 persen menentangnya, dan 32 persen lainnya belum menentukan sikap.
Temuan ini mencerminkan ketegangan politik internal AS yang semakin tajam terkait kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump.
Basis Partai Republik Dominan Mendukung
Dukungan terhadap operasi itu sangat kuat di kalangan Partai Republik. Sebanyak 65 persen pemilih Republik menyatakan setuju dengan tindakan tersebut.
Sebaliknya, hanya 11 persen dari Partai Demokrat dan 23 persen dari pemilih independen yang menyatakan dukungan.
Perbedaan sikap ini mempertegas polarisasi politik Amerika dalam menyikapi konflik internasional, khususnya di kawasan Amerika Latin.
Mayoritas Menolak AS Menguasai Venezuela
Dalam isu lanjutan, publik AS menunjukkan kecenderungan menolak campur tangan lebih jauh.
Sebanyak 43 persen responden menolak AS mengelola Venezuela hingga terbentuk pemerintahan baru, sedangkan 34 persen mendukung dan 20 persen masih ragu-ragu.
Selain itu, 47 persen warga AS menentang penempatan pasukan militer di Venezuela, sementara hanya 30 persen yang menyatakan setuju.
Penolakan juga muncul terhadap rencana pengambilalihan ladang minyak Venezuela oleh AS, dengan 46 persen menentang dan 30 persen mendukung.
Lebih dari itu, 72 persen responden mengaku khawatir AS akan menjadi terlalu terlibat dalam konflik Venezuela.
Trump Ancam Aksi Militer Lanjutan
Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan Amerika Serikat akan “mengelola” Venezuela, meskipun sejumlah pejabat pemerintahannya mencoba meredam spekulasi tentang kemungkinan pendudukan negara tersebut.
Pada Minggu (5/1), Trump kembali mengeluarkan pernyataan keras dengan mengancam akan melakukan aksi militer tambahan jika Venezuela “tidak berperilaku baik”.
Maduro Hadapi Sidang di New York
Presiden Nicolas Maduro, yang diculik dalam operasi pasukan khusus AS, pada Senin menjalani sidang perdana di pengadilan federal Manhattan, New York.
Ia menghadapi dakwaan narkoterorisme, perdagangan narkoba, dan kepemilikan senjata. Di hadapan hakim, Maduro menyatakan dirinya tidak bersalah dan menyebut proses hukum tersebut sebagai bentuk penculikan.
“Saya masih presiden negara saya,” kata Maduro melalui penerjemah di ruang sidang.
Maduro bersama istrinya Cilia Flores, putranya Nicolás Ernesto Maduro Guerra, serta tiga terdakwa lainnya terancam hukuman penjara seumur hidup jika terbukti bersalah.
Delcy Rodriguez Resmi Jadi Presiden Sementara Venezuela
Pada hari yang sama, Wakil Presiden Delcy Rodríguez dilantik sebagai Presiden Sementara Venezuela oleh Majelis Nasional.
Dalam pidatonya, Rodriguez menyebut Maduro dan istrinya sebagai “pahlawan” yang kini menjadi korban penyanderaan.
Dampak Geopolitik Menguat
Krisis ini diperkirakan akan memperuncing ketegangan geopolitik global, memperumit hubungan AS dengan sekutu-sekutu Venezuela seperti Rusia dan China, serta meningkatkan risiko konflik di kawasan Amerika Latin.(rak)