RADAR SURABAYA - CEO Meta, Mark Zuckerbergresmi mengubah nama Facebook menjadi Meta pada Oktober 2021 sebagai strategi besar untuk mengembangkan teknologi realitas virtual (VR) dan metaverse.
Namun, ambisi tersebut justru berujung pada kerugian besar dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
Sejak awal 2021, Meta tercatat merugi lebih dari USD 70 miliar atau sekitar Rp 1.100 triliun, membuat investor gelisah dan publik meragukan masa depan ruang virtual yang dijanjikan Zuckerberg.
Menurut laporan Bloomberg, eksekutif Meta kini mempertimbangkan pemangkasan anggaran hingga 30 persen bagi tim Horizon Worlds dan headset VR Quest. PHK diperkirakan bisa dimulai paling cepat Januari 2026.
Meski demikian, saham Meta justru melonjak lebih dari 4 persen setelah kabar pemangkasan anggaran tersebut.
Hal ini menunjukkan investor menyambut baik langkah perusahaan untuk mengurangi beban proyek metaverse.
“Langkah cerdas, hanya saja terlambat,” ujar analis Huber Research Partners, Craig Huber.
Meta kini beralih fokus ke kecerdasan buatan (AI). Dikutip dari Futurism, perusahaan berkomitmen menggelontorkan dana fantastis USD72 miliar untuk pengembangan AI tahun ini.
Pergeseran strategi ini diperkirakan akan memukul keras divisi Reality Labs yang selama ini menaungi proyek metaverse.
“Kami melihat AI sebagai fondasi masa depan teknologi, berbeda dengan VR yang belum berkembang sesuai harapan,” ungkap salah satu eksekutif Meta dalam pernyataan internal.
Dengan kerugian mencapai Rp 1.100 triliun dan rencana pemangkasan anggaran besar-besaran, masa depan metaverse Meta semakin suram.
Zuckerberg kini menaruh harapan baru pada kecerdasan buatan sebagai pilar utama perusahaan.
Proyek metaverse mungkin masih bertahan dalam bentuk tertentu, tetapi tanda-tanda kegagalannya sudah jelas terlihat. Era baru Meta kini beralih dari dunia virtual ke dunia AI. (net/nur)