RADAR SURABAYA - Bencana banjir besar yang melanda wilayah selatan Thailand menelan korban jiwa hingga 162 orang pada Sabtu (29/11).
Tragedi ini disebut sebagai banjir terburuk dalam 25 tahun terakhir, dengan lebih dari 1 juta rumah tangga terdampak dan jutaan warga kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar.
Menurut laporan Thai PBS, provinsi Songkhla menjadi daerah paling parah dengan 126 korban tewas.
Sementara itu, korban jiwa juga tercatat di sejumlah provinsi lain seperti Nakhon Si Thammarat, Phattalung, Trang, Satun, Pattani, Yala, dan Narathiwat.
Juru bicara pemerintah Siripong Angkasakulkiat menyampaikan bahwa ribuan warga masih terjebak di rumah mereka akibat banjir.
“Kami terus berupaya melakukan evakuasi dan memastikan bantuan darurat sampai ke lokasi terdampak,” ujarnya.
Dirjen Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana, Teerapat Kachamat, menambahkan bahwa banjir melanda 105 distrik di sembilan provinsi selatan, berdampak pada lebih dari 2,9 juta orang.
Tim tanggap darurat telah dikerahkan untuk menyalurkan makanan, air bersih, dapur umum keliling, unit pemurnian air, hingga perahu penyelamat.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengumumkan keadaan darurat di Songkhla sejak Selasa (25/11). Ia juga berjanji memberikan kompensasi uang kepada keluarga korban tewas.
“Pemerintah akan memastikan setiap keluarga korban menerima dukungan finansial sebagai bentuk tanggung jawab negara,” tegasnya.
Dengan korban jiwa yang terus bertambah dan jutaan warga terdampak, banjir di Thailand selatan menjadi peringatan keras akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi.
Pemerintah Thailand kini fokus pada evakuasi, distribusi bantuan, dan pemulihan infrastruktur, sementara masyarakat berharap langkah cepat ini mampu mengurangi penderitaan warga di daerah terdampak. (tha/nur)
Editor : Nurista Purnamasari