RADAR SURABAYA - Seorang pria yang mengaku “produser Hollywood”, David Brian Pearce, dijatuhi hukuman penjara 146 tahun hingga seumur hidup oleh hakim Pengadilan Tinggi Los Angeles, Eleanor Hunter.
Putusan itu dibacakan Kamis (30/10) waktu setempat, setelah Pearce dinyatakan bersalah atas dua tuduhan kejahatan peracunan fentanyl dan obat lain yang menewaskan dua perempuan muda pada 2021.
Korban masing-masing adalah model Christy Giles, 24 tahun, dan arsitek Hilda Marcela Cabrales-Arzola, 26 tahun. Menurut laporan People, kasus ini menjadi sorotan besar di Los Angeles karena menggambarkan sisi gelap pesta narkoba di kalangan selebritas muda.
“Kasus ini menjadi pengingat nyata akan kehancuran yang disebabkan fentanil. Pelaku yang mengeksploitasi dan melukai orang lain akan dimintai pertanggungjawaban,” tulis Kantor Kejaksaan Los Angeles dalam pernyataannya.
Jaksa Wilayah Seth Carmack mengungkapkan, peristiwa bermula ketika Giles dan Cabrales-Arzola bertemu Pearce di sebuah pesta gudang di Los Angeles Timur. Mereka kemudian ikut ke apartemen Pearce di Beverly Hills. Di sana, Pearce memberi korban obat penenang jenis GHB dan fentanil. Menurut jaksa, obat itu digunakan untuk memfasilitasi kekerasan seksual.
Rekaman keamanan menunjukkan, sekitar 11 jam setelah tiba di apartemen, Pearce dan teman sekamarnya, Brandt Osborn, membawa kedua korban keluar kamar dan meninggalkan mereka dalam kondisi tak sadarkan diri di depan dua rumah sakit berbeda pada 14 November 2021.
Giles dinyatakan meninggal saat tiba di rumah sakit, sementara Cabrales-Arzola sempat dirawat intensif sebelum meninggal sebelas hari kemudian—sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27.
Biro Koroner LA County memastikan kematian mereka sebagai pembunuhan akibat keracunan obat. Dalam sidang, terungkap pula fakta mencengangkan: Pearce bukan hanya pelaku dalam kasus itu, tapi juga diketahui pernah melakukan kekerasan seksual terhadap sedikitnya tujuh perempuan lain sejak 2007.
Hakim Hunter menyebut Pearce “tidak menunjukkan penyesalan” dan pantas menerima hukuman maksimal. Ia menilai kejahatan tersebut dilakukan dengan pola berulang, penuh manipulasi, dan sangat berbahaya.
Jaksa Carmack menegaskan, hukuman berat ini diharapkan memberi pesan kuat agar kasus serupa tidak terulang di industri hiburan. “Ini bukan hanya tentang dua korban. Ini tentang melindungi perempuan lain dari predator seperti Pearce,” ujarnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek