Jakarta - Israel melakukan serangan udara ke Doha, Qatar, pada Selasa (9/9), menargetkan para pemimpin Hamas yang bermarkas di sana. Tindakan ini memicu kekhawatiran karena Qatar berperan sebagai mediator penting dalam upaya gencatan senjata konflik Gaza. Serangan dianggap berpotensi menggagalkan proses perdamaian yang tengah dirintis sekaligus memperburuk ketegangan di Timur Tengah.
Seorang pejabat senior Israel mengatakan kepada CNN bahwa Khalil Al-Hayya, negosiator utama Hamas, menjadi salah satu target utama.
"Kami masih menanti laporan final terkait dampak operasi itu," ujar pejabat tersebut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, menegaskan bahwa serangan diarahkan ke kompleks perumahan di Doha yang dihuni sejumlah anggota biro politik Hamas.
"Negara Qatar mengutuk keras aksi pengecut ini. Kami menolak keras tindakan ceroboh dan tidak bertanggung jawab yang dilakukan Israel," tegasnya melalui platform X.
Qatar selama ini berperan sebagai penengah dalam upaya menghentikan perang di Gaza, membuka jalur komunikasi dengan Hamas, Israel, maupun Amerika Serikat dan beberapa kali menjadi tuan rumah perundingan.
Sejumlah pejabat senior Israel, termasuk kepala Mossad dan tim negosiatornya, rutin melakukan kunjungan ke Doha. Namun, serangan terbaru menimbulkan pertanyaan mengenai kelanjutan hubungan diplomatik tersebut.
Di sisi lain, Einav Zangauker, ibu seorang sandera Israel di Gaza, mengungkapkan ketakutannya.
"Saya benar-benar gemetar. Bisa saja, pada momen ini, perdana menteri sudah menjatuhkan hukuman mati pada anak saya, Matan. Kenapa ia harus menghancurkan peluang menuju kesepakatan?" tulisnya di X.
Sekjen PBB Antonio Guterres juga mengecam serangan itu. Melalui juru bicaranya, ia menekankan pentingnya peran Qatar dalam mendorong gencatan senjata dan pembebasan sandera di Gaza.
Seorang pejabat Israel menyampaikan kepada CNN bahwa operasi sudah diberitahukan terlebih dahulu kepada Amerika Serikat. Dua pejabat Washington mengonfirmasi bahwa pemerintahan Trump mendapat informasi sebelum operasi dimulai. Hingga kini, tanggapan resmi Gedung Putih maupun Departemen Luar Negeri belum disampaikan.
Baca Juga: Ratusan Pengusaha Inggris Desak Pemerintah Jatuhkan Sanksi ke Israel atas Genosida di Gaza
Menurut sumber lain, operasi militer bernama sandi "Puncak Api" itu telah disiapkan sejak dua hingga tiga bulan lalu, namun eksekusinya dipercepat beberapa pekan terakhir.
"Operasi ini sepenuhnya inisiatif Israel. Israel yang merencanakan, melaksanakan, sekaligus bertanggung jawab atas dampaknya," bunyi pernyataan Kantor Perdana Menteri Israel.
Qatar merupakan sekutu dekat AS di Teluk, lokasi Pangkalan Udara Al Udeid, markas militer terbesar Amerika di Timur Tengah. Sejak 2022, Qatar berstatus sebagai Major Non-NATO Ally. Awal tahun ini, pangkalan tersebut pernah menjadi sasaran serangan Iran, menyusul operasi AS terhadap fasilitas nuklir di Teheran dan kampanye militer Israel pada Juni lalu. (dta/ris/fir)
Editor : M Firman Syah