RADAR SURABAYA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu ketegangan global dengan mengancam negara-negara anggota BRICS, termasuk Indonesia, dengan tarif impor tambahan sebesar 10 persen.
Ancaman ini muncul setelah blok ekonomi BRICS mengeluarkan pernyataan yang secara tidak langsung mengkritik kebijakan perdagangan dan aksi militer Amerika Serikat.
Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi “America First” yang mengedepankan kebijakan proteksionis dan menekan negara-negara lain untuk tunduk pada kepentingan ekonomi AS.
BRICS Jadi Sasaran Trump: Siapa Saja yang Terkena Dampaknya?
BRICS adalah kelompok negara ekonomi berkembang yang awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan.
Kini, keanggotaan BRICS telah berkembang dan mencakup Indonesia, Mesir, Iran, Uni Emirat Arab, dan beberapa negara lain.
Pada KTT BRICS ke-17 yang berlangsung di Rio de Janeiro, Brasil, akhir pekan lalu, para pemimpin BRICS menyerukan penguatan multilateralisme dan reformasi tata kelola global.
Deklarasi tersebut juga menyuarakan keprihatinan atas kebijakan tarif sepihak dan tindakan proteksionis yang dianggap tidak konsisten dengan aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Tanpa menyebut Amerika Serikat secara eksplisit, BRICS mengkritik penggunaan tarif sebagai senjata ekonomi yang dapat merusak perdagangan global dan memperbesar ketimpangan ekonomi antarnegara.
Trump: Negara "Anti-Amerika" Akan Dikenai Tarif 10 Persen
Melalui unggahan di media sosialnya, Trump menyampaikan ancaman langsung:
“Negara mana pun yang mendukung kebijakan anti-Amerika dari BRICS akan dikenakan tarif tambahan sebesar 10 persen. Tidak ada pengecualian untuk kebijakan ini.”
Pernyataan ini memperjelas sikap konfrontatif Trump terhadap negara-negara yang dinilai tidak sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat.
Kebijakan ini dikhawatirkan dapat memperkeruh hubungan dagang dan memicu aksi balasan dari negara-negara yang terkena dampak.
Indonesia Berpotensi Terkena Dampak Langsung
Sebagai anggota baru BRICS, Indonesia berpotensi terkena dampak langsung dari kebijakan tarif Trump.
Sektor ekspor utama Indonesia seperti tekstil, produk olahan, dan komoditas pertanian bisa kehilangan daya saing di pasar Amerika jika tarif 10 persen diberlakukan.
Sementara itu, Indonesia tengah mendorong diversifikasi pasar ekspor dan memperkuat hubungan dagang dengan negara-negara Global Selatan.
Ancaman tarif ini bisa menjadi tantangan tambahan dalam menjaga stabilitas ekspor nasional.
Reaksi Pemimpin Dunia: Dunia Tak Butuh Kaisar
Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, merespons ancaman Trump dengan nada tegas:
“Saya kira tidak bertanggung jawab atau serius bagi seorang presiden negara sebesar Amerika Serikat untuk seenaknya mengancam dunia lewat internet. Dunia telah berubah. Kami tidak menginginkan seorang kaisar.”
Sementara Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, menekankan perlunya pandangan yang lebih positif terhadap munculnya kekuatan-kekuatan baru di dunia:
“Munculnya berbagai pusat kekuatan harus dilihat dalam sudut pandang positif, bukan sebagai ancaman.”
Konflik Memanas: BRICS Kecam Serangan Militer ke Iran
Selain soal tarif, BRICS juga mengecam serangan militer terhadap Iran, salah satu anggotanya, yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat pada Juni 2025.
Serangan itu ditujukan ke fasilitas nuklir yang diklaim AS berpotensi digunakan untuk senjata, meskipun Iran membantah tuduhan tersebut.
Pernyataan BRICS menyebutkan bahwa serangan itu melanggar hukum internasional dan dapat memperburuk ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Ancaman Tarif AS Berpotensi Picu Eskalasi Global
Kebijakan tarif tambahan dari Presiden Donald Trump terhadap negara-negara BRICS bisa menjadi pemicu eskalasi ketegangan ekonomi dan diplomatik di tingkat global.
Bagi Indonesia dan negara berkembang lainnya, ini menjadi ujian baru dalam menghadapi tekanan dagang dari negara besar.
Upaya memperkuat kerja sama ekonomi Global Selatan menjadi semakin penting sebagai penyeimbang terhadap dominasi ekonomi negara maju.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan