RADAR SURABAYA- Pabrik pesawat terbang asal Amerika Serikat, Boeing, memberhentikan lebih dari 2.500 pekerja di empat negara bagian, yaitu Washington, Oregon, South Carolina, dan Missouri.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi pemangkasan 17.000 pekerjaan atau sekitar 10% dari total tenaga kerja globalnya.
Dilansir dari Reuters, Boeing mulai memberikan pemberitahuan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada para karyawan sejak pertengahan November.
Hampir 2.200 pekerja di Washington dan 220 di South Carolina menerima Worker Adjustment and Retraining Notification (WARN).
Beberapa ratus insinyur dan pekerja produksi termasuk dalam gelombang PHK ini.
Dampak di Berbagai Negara Bagian
Washington dan South Carolina menjadi lokasi yang paling terdampak karena merupakan pusat produksi pesawat komersial Boeing.
Menurut serikat pekerja di St. Louis, 111 anggota mereka juga menerima pemberitahuan PHK, mayoritas di divisi komponen sayap untuk 777X.
Seorang teknisi di Boeing Defense, Space & Security mengungkapkan bahwa hampir seluruh timnya diberhentikan.
Langkah ini menambah ketidakpastian di tengah rencana Boeing untuk memulai kembali produksi 737 MAX setelah sempat terhenti akibat pemogokan pekerja.
Langkah Strategis Boeing
CEO baru Boeing, Kelly Ortberg, sebelumnya menyatakan bahwa perusahaan berusaha mempertahankan karyawan di divisi produksi dan laboratorium teknik.
Namun, PHK ini menunjukkan bahwa insinyur dan teknisi pun terdampak.
Selain PHK, Boeing juga mempertimbangkan pengurangan tenaga kerja melalui penjualan anak perusahaan dan perekrutan selektif.
Dengan pemberitahuan WARN yang sudah dikeluarkan pada November, gelombang PHK selanjutnya diperkirakan akan terjadi pada Desember 2024.
Pekerja yang menerima pemberitahuan masih akan tetap bekerja hingga 17 Januari 2025 sesuai persyaratan federal.
Langkah ini menandai tantangan besar bagi Boeing dalam menavigasi pasar dirgantara yang kompetitif sambil menangani dampak ekonomi dan operasional dari pemogokan sebelumnya.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan