RADAR SURABAYA – Amerika Serikat telah melakukan pengiriman bantuan kemanusiaan melalui udara untuk pertama kalinya ke Gaza.
Lebih dari 30.000 makanan diterbangkan dengan parasut oleh tiga pesawat militer.
Kampanye bantuan udara ini dilakukan setelah lebih dari 100 orang dilaporkan tewas dan ratusan lainnya terluka ketika warga Palestina yang bergegas menuju truk-truk yang memuat bantuan kemanusiaan ditembaki di Kota Gaza, Kamis (29/2) dini hari, menurut laporan media setempat.
Dilansir dari Fox News, Ashraf al-Qidra, juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, mengatakan sedikitnya 104 orang tewas dan sekitar 760 lainnya luka-luka.
Ia menggambarkan kejadian tersebut sebagai “pembantaian”.
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Stéphane Dujarric mengatakan, dalam sebuah konferensi pers, Jumat (1/3), “Dari apa yang mereka lihat, dari sisi pasien yang masih hidup dan mendapatkan perawatan, terdapat banyak sekali luka tembak.”
Di sisi lain, Israel membantah tuduhan bahwa mereka adalah dalang dari kejadian tersebut.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim bahwa sebagian besar dari mereka yang meninggal dalam insiden tersebut adalah akibat saling dorong dan terinjak-injak saat berusaha mengambil bantuan.
Operasi udara yang dilakukan bersama dengan Angkatan Udara Yordania, merupakan yang pertama dari sekian banyak operasi yang diumumkan oleh Presiden AS, Joe Biden.
Bantuan udara ini terjadi setelah para pejabat senior AS mengonfirmasi bahwa Israel telah menyetujui kerangka kerja kesepakatan gencatan senjata selama enam minggu di Gaza.
“Gencatan senjata di Gaza akan berlangsung selama enam minggu mulai hari ini jika Hamas setuju untuk membebaskan sandera-sandera yang rentan, yang sakit, yang terluka, orang tua dan wanita,” jelas pejabat yang tidak disebutkan namanya itu, dikutip dari BBC News.
Selanjutnya, para mediator akan bertemu kembali di Kairo, Minggu (3/3) waktu setempat.
Ddan para pejabat Mesir mengatakan bahwa delegasi dari Hamas dan Israel diperkirakan akan tiba untuk melakukan negosiasi.
“Sabtu (2/3), pesawat-pesawat angkut C-130 menjatuhkan 38.000 makanan di sepanjang garis pantai Gaza,” ujar Komando Pusat AS dalam sebuah pernyataan.
“Bantuan udara ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk memasukkan lebih banyak bantuan ke Gaza, termasuk dengan memperluas aliran bantuan melalui lintasan dan rute darat,” tambahnya dalam pernyataan tersebut.
Negara-negara lain termasuk Inggris, Prancis, Mesir dan Yordania sebelumnya telah menjatuhkan bantuan ke Gaza, namun ini adalah yang pertama kalinya dilakukan oleh AS.
Jan Egeland, kepala organisasi bantuan Dewan Pengungsi Norwegia, baru saja kembali dari kunjungan tiga hari ke Gaza.
“Saya sudah siap menghadapi mimpi buruk, tapi ini ternyata lebih buruk, jauh lebih buruk,” ucap Egeland kepada BBC, Minggu.
“Saya rasa ada kelaparan hebat di daerah utara Gaza,” terangnya seraya menambahkan bahwa tidak ada bantuan untuk 300.000 orang yang tinggal di reruntuhan, dan Israel tidak mengizinkan bantuan masuk.
Para pejabat pemerintahan AS mengatakan bahwa “insiden tragis” pada hari Kamis itu telah menyoroti “pentingnya memperluas dan mempertahankan aliran bantuan kemanusiaan ke Gaza dalam menanggapi situasi kemanusiaan yang mengerikan”.
Sebaliknya, lembaga-lembaga bantuan mengatakan bahwa bantuan udara adalah cara yang tidak efisien untuk memberikan bantuan.
“Bantuan udara itu mahal, jika sembarangan dapat berujung ke tangan orang yang salah,” jelas Egeland.
Dalam pernyataannya, Jumat (1/3), Presiden Biden mengungkapkan bahwa AS akan bersikeras agar Israel memfasilitasi lebih banyak truk dan lebih banyak rute untuk memberikan bantuan kepada lebih banyak orang yang membutuhkan.
“Wakil Presiden AS Kamala Harris akan bertemu dengan anggota kabinet perang Israel, Benny Gantz di Washington, Senin (4/3), untuk mendiskusikan gencatan senjata dan isu-isu lainnya,” ujar seorang pejabat Gedung Putih dikutip dari CNN News.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Palestina mengungkapkan bahwa pemboman Israel di sebuah kamp pengungsian di Rafah, Gaza Selatan, telah menewaskan sedikitnya 11 orang.
Termasuk dua tenaga kesehatan, Sabtu (2/3).
Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut serangan tersebut “keterlaluan”.
Lebih lanjut, Program Pangan Dunia (WFP) telah memperingatkan bahwa kelaparan akan segera terjadi di Gaza utara.
Karena hanya menerima sedikit bantuan dalam beberapa minggu terakhir.
Sementara ada sekitar 300.000 orang hidup dengan sedikit makanan dan air bersih.
Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas mengatakan lebih dari 30.000 orang, termasuk 21.000 anak-anak dan perempuan, telah terbunuh di Gaza sejak 7 Oktober.
Sekitar 7.000 orang juga hilang dan setidaknya 70.450 orang terluka. (nad/opi)
Editor : Nofilawati Anisa