Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Surabaya Kota Multikultural dengan Jejak Pertahanan yang Berubah dari Fisik

Rahmat Sudrajat • Selasa, 24 Maret 2026 | 16:49 WIB
BENTENG PERTAHANAN: Tampak dari atas bangunan Benteng Prins Hendrik Soerabaja yang berada di sisi timur Kalimas. Benteng ini menjadi salah satu bagian dari bentuk pertahanan kota Surabaya. (IST)
BENTENG PERTAHANAN: Tampak dari atas bangunan Benteng Prins Hendrik Soerabaja yang berada di sisi timur Kalimas. Benteng ini menjadi salah satu bagian dari bentuk pertahanan kota Surabaya. (IST)

RADAR SURABAYA - Dikenal dengan berbagai sebutan, Surabaya terus mempesona dengan wajahnya yang berubah dari waktu ke waktu. 

Mulai dari era pra kolonial hingga reformasi saat ini, kota ini dikenal sebagai kota multikultural, kota Belanda, kota bertembok, kota Pahlawan, hingga kota harapan dan masa depan.

Baca Juga: Suplai Gas Terganggu, Industri Keramik di Jatim Berhenti Operasi

Pegiat Sejarah Surabaya, Nanang Purwono menjelaskan, masyarakat Surabaya yang terdiri dari beragam suku dan bangsa memiliki dinamika yang luar biasa. 

"Masyarakat kota Surabaya, yang ternyata terdiri dari bermacam-macam suku dan bangsa, benar-benar dinamis. Semangat mereka untuk mengisi hari-harinya begitu terekspresi dari serangkaian kegiatan yang mereka lakukan, baik yang bersifat sosial, politik dan pemerintahan, ekonomi hingga ke kegiatan keagamaan," ujarnya, Selasa (24/3).

Untuk melindungi peradaban dan kepentingannya, Surabaya selalu memiliki bentuk pertahanan tersendiri. 

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 11 Persen di Tengah Tensi Tinggi Geopolitik di Kawasan Timur Tengah

Pada era pra kolonial dan kolonial, pertahanan diwujudkan dalam bentuk fisik, seperti pembangunan batas wilayah, tembok, dan benteng yang mengelilingi area tertentu, misalnya wilayah kraton dan kota.

Namun, seiring berjalannya waktu, bentuk pertahanan ini berubah. 

Di era perang revolusi, bagi arek-arek Suroboyo, tembok pertahanan tidak lagi berupa dinding pemisah fisik. 

Baca Juga: Gelandang Leeds United Dibawa! Bulgaria Tampil Mengerikan di FIFA Series 2026

"Namun sudah merupakan semangat kepahlawanan untuk mempertahankan harga diri dan kedaulatan bangsa. Maka jiwa dan raga merekalah yang menjadi taruhan dan menjadi tembok-tembok serta benteng-benteng untuk melindungi kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945," ujar Nanang.

Kini, di era kemerdekaan, tantangan yang dihadapi pun berbeda. 

Ancaman dan bahaya tidak lagi terlihat jelas dan bahkan ada di dalam diri setiap individu. 

"Musuh itu kini ada pada diri setiap individu. Musuh kita adalah diri sendiri. Musuh kita adalah hawa nafsu dan keserakahan," ungkapnya.

Baca Juga: Imbas Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah, OJK Waspadai Tekanan pada Industri Asuransi Umum

Lantas, apa yang bisa menjadi benteng pertahanan di masa kini? 

Menurutnya, jawaban hanya iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang bisa menjadi pelindung umat manusia, menjadi pelindung masyarakat Surabaya. 

"Iman dan taqwa menjadikan derajat dan kualitas moral warga negara semakin baik. Bangsa yang besar akan runtuh bila moral anak bangsanya bobrok," tegasnya.

Baca Juga: Timnas Indonesia Tambah Amunisi! Steven Vitoria Jadi Asisten Pelatih John Herdman

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk melakukan introspeksi bersama. 

"Mari kita instropeksi bersama, bagaimana kualitas moral, keimanan dan ketaqwaan kita selama ini dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia," pungkasnya. (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#klasik #fisik #peradaban #surabaya #Era #benteng #pembangunan #pertahanan #Pegiat #kolonial #sejarah #NANANG PURWONO