RADAR SURABAYA - Budaya Arek Suroboyo memiliki prinsip dasar yang kuat. Salah satunya adalah solidaritas tinggi.
Pegiat Sejarah Kota Surabaya, Nanang Purwono mengatakan, menyadari nasib yang sama sebagai anak bangsa yang berada di bawah tekanan pihak lain, masyarakat Surabaya bangkit untuk saling membebaskan diri dari belenggu penjajahan.
Termasuk mengantisipasi upaya penjajahan kembali di bumi pertiwi.
Nanang menjelaskan, solidaritas tersebut pernah terwujud dalam peristiwa sejarah.
"Fakta ini dilakukan oleh tentara Belanda ketika menyusup ke dalam tentara sekutu yang hendak melucuti tentara Jepang dan membebaskan interniran kulit putih terutama wanita dan anak-anak akibat ditawan Jepang," ujarnya.
Selain solidaritas, prinsip ketiga dari budaya arek adalah demokratisasi.
Peristiwa 10 Nopember yang merupakan gerakan rakyat menjadi dasar, dimana rakyat secara bersama-sama ikut menentukan arah perjuangan dan tujuan bersama.
“Yaitu mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan,” tegasnya.
Keterbukaan dan kebebasan berpendapat pada prinsip ini menjadikan Arek Suroboyo memiliki kekuatan luar biasa untuk menghadapi tentara Sekutu.
"Dari kedua prinsip tersebut beserta prinsip dasar lainnya, tercermin sikap bulat Arek Suroboyo yang egaliter, terbuka, dan tidak sombong," urainya.
Diakui Nanang, budaya arek jauh dari sikap eksklusif yang memisahkan diri dari orang atau kelompok lain.
Justru budaya arek diharapkan mampu menyambut globalisasi dan memperhitungkan dampaknya agar tidak terbawa arus yang merugikan bangsa dan negara.
“Dalam menghadapinya, Arek Suroboyo harus mampu mengantisipasi segala bentuk ancaman dan bahaya melalui kreativitas dan inovasi tanpa meninggalkan jati diri Surabaya,” ungkap jurnalis televisi itu. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa