RADAR SURABAYA - Kerajaan Mataram, salah satu kerajaan besar di Jawa, memiliki sejarah panjang dan penuh dinamika.
Pada masa awal, lokasi keraton (kedudukan raja) terletak di daerah Banguntapan, kemudian dipindahkan ke Kotagede, Yogyakarta.
"Oleh karena itu, Prabu Hanyokrowati juga dikenal sebagai Susuhunan Seda Krapyak atau Panembahan Seda Krapyak, yang berarti Raja yang wafat di Krapyak," ujarnya.
Setelah wafatnya Prabu Hanyokrowati, tahta sementara beralih ke putra keempat Mas Jolang, yaitu Adipati Martoputro.
Namun, karena menderita penyakit syaraf, tahta akhirnya berpindah ke putra sulung Mas Jolang yang bernama Mas Rangsang.
"Setelah naik tahta, Mas Rangsang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo, yang lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Mataram melakukan ekspansi untuk menguasai seluruh Pulau Jawa," tuturnya.
Sementara itu wilayah kekuasaan Mataram hampir mencakup seluruh pulau, seperti Surabaya dan Madura, Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Jawa Barat, kecuali Banten.
Sultan Agung juga membangun keraton baru di Kerto yang berarti dalam bahasa Jawa kertå, sehingga muncul sebutan Mataram Kerta.
"Namun, terjadi gesekan dalam penguasaan perdagangan antara Mataram dan VOC yang berpusat di Batavia. Akibatnya, Mataram berkoalisi dengan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon, serta terlibat dalam beberapa peperangan melawan VOC," jelasnya.
Setelah wafat dan dimakamkan di Imogiri, Sultan Agung digantikan oleh putranya yang bergelar Amangkurat I. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa