Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Jejak Mataram di Surabaya: Penaklukan, Pernikahan, dan Pemerintahan

Rahmat Sudrajat • Senin, 1 Desember 2025 | 23:23 WIB
BERLAYAR: Pada era klasik atau kerajaan, laut menjadi transportasi untuk perdagangan yang kemudian diteruskan pada masa Kolonialisme di Surabaya.
BERLAYAR: Pada era klasik atau kerajaan, laut menjadi transportasi untuk perdagangan yang kemudian diteruskan pada masa Kolonialisme di Surabaya.

RADAR SURABAYA - Sebelum masa kolonialisme, Surabaya masuk di dalam pusaran Mataram.

Puncaknya ketika tahun 1625, Surabaya mengalami kekalahan di bawah kekuasaan Mataram, setelah Arosbaya juga takluk pada tahun sebelumnya.

Penaklukan ini terjadi setelah Pangeran Pekik dijodohkan dengan Ratu Pandan Sari dari Mataram.

Peristiwa ini menandai perubahan signifikan dalam sejarah kota Surabaya.

Menurut pegiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono, hubungan antara Surabaya dan Mataram membawa dampak positif bagi kehidupan rakyat dan jalannya roda pemerintahan Kadipaten Surabaya.

Bahkan, pada suatu ketika di tahun 1646, Surabaya mampu menata dirinya sendiri secara independen.

"Sayang, kemandirian itu harus berakhir ketika penguasa Mataram beralih dari Sultan Agung ke Amangkurat I dan penerusnya, Amangkurat II," jelas Nanang Purwono.

Kesultanan Mataram sendiri merupakan kerajaan Islam di Jawa yang didirikan oleh Sutawijaya, keturunan dari Ki Ageng Pemanahan.

Ki Ageng Pemanahan mendapatkan hadiah sebidang tanah dari Raja Pajang, Hadiwijaya, atas jasanya.

Pada masa keemasannya, Kerajaan Mataram berhasil menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya, termasuk Madura.

Mataram juga meninggalkan jejak sejarah yang dapat dilihat hingga kini, seperti wilayah Matraman di Jakarta dan sistem persawahan di Karawang.

"Pada masa awal Kesultanan Mataram, Sutawijaya naik tahta sebagai penerus kerajaan Pajang setelah Hadiwijaya wafat, dengan gelar Panembahan Senopati. Wilayahnya pada saat itu hanya meliputi sekitar Jawa Tengah saat ini, mewarisi wilayah Kerajaan Pajang," pungkas Nanang. (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#kadipaten surabaya #kolonialisme #surabaya klasik #Pangeran Pekik #sejarah Surabaya #mataram #Radar Surabaya #kekuasaan #Arosbaya