RADAR SURABAYA - Siapa yang tak kenal Pasar Turi. Di masa kejayaannya, Pasar Turi pernah menjadi pusat grosir terbesar di Surabaya.
Dahulu, mau mencari barang apa pun pasti bisa didapatkan di Pasar Turi.
Pasar Turi bukan sekadar pusat perdagangan, melainkan simbol kehidupan masyarakat Surabaya dari masa ke masa.
Pasar legendaris ini disebut-sebut telah berdiri sejak zaman kolonial, menjadikannya salah satu ikon ekonomi dan sosial tertua di Kota Pahlawan.
“Pasar Turi memang menjadi pusat berkumpulnya para pedagang. Awalnya dari penduduk lokal, tapi lama-kelamaan banyak pedagang dari berbagai daerah dan etnis yang masuk,” ungkap Pustakawan Sejarah, Chrisyandi Tri Kartika.
Menurut Chrisyandi, Pasar Turi telah melalui berbagai fase sejarah penting, mulai dari era klasik, kolonial, kemerdekaan, hingga modernisasi.
Meski tidak ada catatan pasti mengenai tahun berdirinya, keberadaan pasar ini telah lama tertanam dalam denyut nadi kota.
“Keberadaannya sudah melewati beberapa masa, tapi nggak bisa ditekankan tanggalnya kapan. Karena sejak zaman dulu memang sudah ada,” ujarnya.
Tak hanya menjadi pusat perdagangan, Pasar Turi juga memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan bangsa.
Di era kemerdekaan, pasar ini bahkan digunakan sebagai tempat berkumpul dan rapat warga Surabaya, mirip seperti Lapangan Ikada di Jakarta.
Namun perjalanan Pasar Turi tak selalu mulus. Pasar ini beberapa kali dilalap si jago merah.
Kebakaran pertama terjadi pada tahun 1950. Tak hanya itu, Pasar Turi juga menjadi sasaran amuk tentara Inggris saat agresi militernya.
Pasukan Inggris, Gurkha, dan NICA kerap menggempur kawasan ini dengan mortir.
Serangkaian kebakaran kembali terjadi pada tahun 1969, 1978, 2002, dan terakhir pada 9 September 2007.
Insiden di tahun 2007 tersebut menjadi yang paling parah, menghanguskan hampir seluruh bangunan Pasar Turi tahap I, II, dan III. Hanya gedung Pasar Turi tahap III yang tersisa.
Sebagai respons, Pemerintah Kota Surabaya membangun tempat penampungan sementara (TPS) dari triplek dua lantai yang mengelilingi area pasar, guna menampung para pedagang yang terdampak.
Kini, meski wajah Pasar Turi telah banyak berubah, sejarah panjangnya tetap menjadi bagian penting dari identitas Surabaya.
Dari tempat jual beli hingga saksi perjuangan, Pasar Turi tetap hidup dalam ingatan warga kota sebagai simbol ketahanan dan kebersamaan. (sur/opi)
Editor : Nofilawati Anisa