Bangunan yang berdiri di atas lahan tersebut telah berganti fungsi berkali-kali sejak hotel tersebut berhenti beroperasi pada tahun 1997.
Nurmansyah, yang keluarganya pernah memiliki Hotel Flores, menceritakan perjalanan bangunan tersebut.
Setelah dijual, pemilik baru, Anwari, berencana menghidupkan kembali bangunan tersebut sebagai hotel dengan nama Flower.
Sebuah nama yang dipilih sebagai penghormatan dan pengingat akan Hotel Flores yang legendaris.
"Dulu waktu dijual, hotel bapak saya ini rencananya mau dihidupkan kembali untuk hotel. Dan untuk mengenangnya diberi nama Flower, namun pada akhirnya hotel tersebut diberi nama Tanjung Emas," jelas anak ketujuh Achijat tersebut.
Namun, rencana tersebut tak berjalan mulus. Hotel Tanjung Emas, yang tadinya direncanakan bertingkat, akhirnya hanya menjadi sebuah losmen.
Keinginan pemilik baru untuk menyamai kejayaan Hotel Flores kandas di tengah krisis moneter yang melanda Indonesia.
Pembangunan yang terhambat membuat hotel tersebut tak mampu mencapai potensi maksimalnya.
"Hotel Tanjung Emas tidak sesuai dengan harapan pemiliknya juga. Jatuhnya menjadi losmen. Karena pemiliknya ingin seperti Hotel Flores," ungkap Nurmansyah.
Kisah Hotel Flores dan transformasinya menjadi Hotel Tanjung Emas menjadi sebuah pengingat akan dinamika bisnis dan bagaimana rencana besar bisa berubah karena berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi yang tak menentu. (bersambung/nur)
Editor : Nurista Purnamasari