Surabaya sebagai kota praindustri bertepatan dengan masa F.J. Rothenbuhler (1799- 1808) menjabat gezaghebber (gubernur) di ujung timur Jawa.
Fajar Yuliyanto-Wartawan Radar Surabaya
Pada saat itu, infrastruktur pertahanan kota berupa pabrik senjata dan peralatan perang (Constructie Winkel) mulai dibangun di Kalisosok.
Dalam buku G.H. Von Faber berjudul Oud Sorabaia menyebutkan bahwa pabrik senjata merupakan awal kemunculan industri skala besar yang berpengaruh pada terciptanya peluang kerja dalam bidang pengecoran tembaga kuningan-besi, perakitan senjata, dan pembukuan.
Kebijakan Sistem Tanam Paksa oleh Gubernur Jenderal Joannes van den Bosch (1830-1833) tidak hanya meningkatkan volume perdagangan yang dikuasai oleh Nederlandsche Handel Maatschapij (disebut Koempeni Ketjil) pada pertengahan abad ke-19, tetapi juga menyebabkan industri semakin berkembang khususnya industri gula.
“Kebijakan tanam paksa mengubah wilayah pinggiran kota sebelah selatan sampai kawasan Sidoarjo menjadi sentra perkebunan tebu,” ujar Pustakawan Sejarah Universitas Ciputra Surabaya, Chrisyandi Tri Kartika kepada Radar Surabaya.
Perkebunan tebu pertama di Jawa Timur terdapat di Pasuruan yang ditanami sejak akhir abad ke-18 sebagai pengembangan dari Batavia.
Kemudian diikuti oleh berdirinya pabrik gula juga di Pasuruan pada 1779 oleh Han Kit Ko. Industri gula di Surabaya berkembang pesat pada tahun 1830-an.
Beberapa pabrik gula di sekitar Surabaya adalah Buduran, Waru, Karang Bong, dan Ketegan pada tahun 1835, Candi pada tahun 1837.
Kemudian Watutulis, Balongbendo, Gedek, dan Seranten pada tahun 1839, dan Sruni pada tahun 1940.
Pabrik gula yang terdapat di kawasan Surabaya di antaranya Ketabang, Jagir, Karah, Darmo, Keputran, Gubeng, Bagong, Dadongan, dan Petemon.
Beberapa pengusaha pabrik gula di Surabaya dan sekitarnya antara lain J.E. Banck, von Franquemont, J.D. Kruseman, The Goan Tzing, Han Kok Tie, Notto Dipuro, dan Soemo Diwirjo.
“Kemunculan pabrik gula di beberapa tempat tentu menciptakan kesempatan kerja baru, baik di bidang produksi maupun di gudang-gudang penyimpanan gula,” jelasnya.
Produksi gula dengan tenaga binatang mulai diganti dengan peralatan modern (mesin uap) pada tahun 1830-an, sehingga mengubah volume dan percepatan produksi gula. (bersambung/nur)
Editor : Jay Wijayanto