RADAR SURABAYA - Tan Kiem Tjiang, seorang pengusaha rumah bordil dari Gresik, tahun 1904 membeli Pabrik Gula (PG) Ketintang dan PG Dadoengan di Surabaya seharga NLG 210.300.
Selain memanfaatkan lahan tebu yang dimiliki kedua PG, Tan Kiem Tjiang juga mengajukan permintaan untuk mengelola lahan tebu baru di luar PG Ketintang dan PG Dadoengan.
Agung Widyanjaya, pemerhati pabrik gula tempo doeloe, menulis bahwa Tan Kiem Tjiang melakukan renovasi besar-besaran fasilitas PG Ketintang, penggantian mesin-mesin, pemasangan instalasi baru dan sebagainya.
Sementara itu, PG Dadoengan tidak difungsikan, tapi hanya dimanfaatkan lahan tebunya. Saat itu lahan tebu di Surabaya masih sangat luas.
PG Ketintang beroperasi normal tahun 1907. Produksi gula tahun 1907 mencapai 10,020 pikol setara 606,000 kg.
Sebagai pembanding produksi gula di PG Waroe 109,125 pikol ~ 6,599,771 kg dan produksi gula tahun 1908 mencapai 34,856 pikol ~ 2,108,056 kg. Sebagai pembanding produksi gula di PG Waroe : 117,469 pikol ~ 7,104,407 kg.
Tetapi pada kenyataannya, menurut Agung, sering kali terjadi kasus pembakaran di lahan tebu PG Ketintang dengan sengaja oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Semacam sabotase.
Sampai pada akhirnya, PG Ketintang, PG Dadoengan, dan PG Karah pada tahun 1914 dijual seharga NLG 1 juta kepada Nederlandsche Handel Maatschappij melalui Soesman & Co. (rek)
Editor : Lambertus Hurek