Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Chinesemolen Batu Gilingan Tebu Pabrik Gula Tertua di Surabaya Masih Ada di Depan SMA Trimurti, Begini Cara Kerjanya

Lambertus Hurek • Selasa, 19 Maret 2024 | 21:46 WIB
Chinesemolen atau batu gilingan tebu milik PG Goebeng yang berada di depan SMA Trimurti Surabaya.
Chinesemolen atau batu gilingan tebu milik PG Goebeng yang berada di depan SMA Trimurti Surabaya.


RADAR SURABAYA - Tak banyak yang tahu kalau di Surabaya pernah berdiri sekitar 17 pabrik gula (PG) pada masa Hindia Belanda. Sayang, nyaris tidak ada jejak yang tersisa dari belasan suiker fabriek (SF) tersebut.

Agung Widyanjaya, pemerhati industri gula masa kolonial, menyebut salah satu peninggalan SF Goebeng alias PG Gubeng berupa chinesemolen atau batu gilingan tebu yang kini berada di SMA Trimurti, dekat Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo.

Menurut Agung, tahun 1910, Pabrik Gula Goebeng pernah dimiliki oleh Gemeente Soerabaja (Pemerintah Kota Surabaya) dan ditutup pada tahun 1912. Setahun kemudian, kawasan ini dijadikan kompleks perumahan elite bangsa Eropa.

"Chinesemolen ini berada di pintu masuk SMA Trimurti. Dulunya tempat ini adalah Stedelijk Museum yang di gagas oleh GH von Faber," papar Agung.

Pada tahun 1834, di saat pembangunan pabrik gula modern sedang berlangsung setelah diterapkan sistem tanam paksa, menurut Agung, pemakaian chinesemolen masih mendominasi.

Pemerintah Hindia Belanda membuat kontrak dengan 71 produsen gula di Karesidenan Surabaya. Sebanyak 70 PG menggunakan chinesemolen dan satu PG menggunakan Watermolen.

"Jika dilihat dari kontrak gula dan tahun berdirinya, yang memakai watermolen adalah Pabrik Gula Tjandi," kata Agung.

Tercatat pada tahun 1832, JD Kruseman, M von Fronquemont, Soemo Di Werio, dan Notto Di Poero mendapatkan kontrak untuk menyediakan gula dari pemerintah. Soemo Di Werio mendirikan Pabrik Gula Goebeng dan Notto Di Poero mendirikan Pabrik Gula Bagong.

Kedua pabrik gula tersebut masih menggunakan Chinesemolen sampai dengan tahun 1850 berdasar catatan De Ingenieur in Indonesie.

Bagaimana cara kerja batu gilingan tebu atawa chinesemolen itu?

Menurut Agung, sepasang chinesemolen khas Tiongkok itu digerakkan oleh dua ekor sapi atau kerbau. Batu gilingan akan menggiling dan memeras tebu hingga keluar airnya. Cairan gula dari tebu ditampung dalam wadah khusus sebelum diproses lagi menjadi gula kristal. (rek)

Editor : Lambertus Hurek
#jejak pabrik gula surabaya #batu gilingan tebu kuno #PG Goebeng #pabrik gula di surabaya #chinesemolen surabaya