SURABAYA - Di kampung Plampitan, Kelurahan Peneleh ada tokoh pergerakan pra kemerdekaan yang namanya kini diabadikan menjadi nama jalan, yaitu Jalan Achmad Jais.
Koordinator Begandring Soerabaia Nanang Purwono mengatakan, Achmad Jais merupakan tokoh pergerakan pra kemerdekaan.
Rumahnya dahulu berada di Jalan Plampitan Gang VIII, Kelurahan Peneleh. "Itu tokoh pra kemerdekaan, temannya dr Soetomo," ujarnya kepada Radar Surabaya.
Dr Soetomo sendiri dahulu sepulang dari Belanda mendirikan perkumpulan yang dinamai Indonesische Studiclub (IS) pada 21 Juli 1924.
Kemudian seiring berjalannya waktu, dr Soetomo memiliki inisiatif untuk mendirikan gedung pertemuan bersama kawan seperjuangan R.M.H Soejono, R.Soendjoto, R.P Soenario Gondokusumo, dan Achmad Jais.
Gedung tersebut kini menjadi Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Jalan Bubutan. "Dia Achmad Jais orang pergerakan bersama dr Soetomo dan tiga lainnya," bebernya.
Penulis buku Benteng-Benteng Soerabaia ini melanjutkan, berkat perjuangannya, Achmad Jais cukup dikenal sebagai sosok tokoh pergerakan dan pejuang.
"Ya (penamaan Jalan Achmad Jais) itu masih berkaitan dengan tokoh Achmad Jais. Namanya tidak jauh dari nama tempat berkiprah dan gedung GNI berada," ungkapnya.
Salah satu tokoh masyarakat Plampitan Sjahriel Iman menambahkan, dahulu rumah Achmad Jais berada di Jalan Plampitan VIII/38. Setelah istrinya wafat, pihak keluarga mewakafkan rumah ke pihak Aisyiyah Muhammadiyah.
"Jadi kampung Plampitan tempatnya pejuang. Jiwa raganya orang Plampitan istilahnya hidup yang asli karena agama, bangsa dan negara. Maka banyak tokoh pejuang asli orang sini," tegasnya.
Diketahui Jalan Achmad Jais membentang sepanjang kurang lebih satu kilometer dari jembatan Genteng Kali hingga ke Jembatan Peneleh. Di kawasan ini juga masih banyak ditemukan bangunan lama era kolonial yang digunakan sebagai rumah warga. (rus/nur)
Editor : Jay Wijayanto