Menurut pegiat sejarah, Nur Setiawan, bangunan yang terletak di jalan Gubernur Suryo 11 itu bersebelahan dengan Simpangsche Societeit (Balai Pemuda) yang pada zaman Hindia Belanda menjadi tempat dugem orang-orang Eropa.
Orang-orang Eropa yang banyak bekerja baik di pemerintahan maupun di kantor yang berada di pusat kota banyak menyekolahkan anak-anaknya di sekolah itu. "Mereka banyak yang menitipkan anak-anaknya ke sekolah itu. Karena kawasan tersebut juga berada di pusat kota yang menjadi pusat pemerintahan dan perkantoran," kata Nur.
Menurutnya, sejak awal berdirinya bangunan digunakan untuk sekolah setara dengan sekolah dasar (SD). Namun tak berlangsung lama, sekolah yang setara SD itu berubah menjadi sekolah setara dengan SMP atau dahulu disebut Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) sekitar tahun 1930.
"Bahkan bangunan tersebut sempat digunakan sebagai markas militer paska kemerdekaan," pungkasnya. Hingga kini bangunan tersebut tetap difungsikan sebagai sekolah, yakni SMA Negeri 6 Surabaya. (rmt/nur) Editor : Administrator