Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Karayuki-san, Jejak Prostitusi di Balik Penamaan Kembang Jepun

Administrator • Kamis, 1 September 2022 | 20:49 WIB
Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono. (DOK/RADAR SURABAYA)
Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono. (DOK/RADAR SURABAYA)
SURABAYA - Pada era pemerintah kolonial Belanda nama jalan di Timur Jembatan Merah adalah Handelstraat. Artinya jalan perdagangan.

Sebagai pusat perdagangan Handelstraat membentang mulai Jalan Rajawali (Hereenstraat) hingga Jalan Kembang Jepun sekarang. "Awalnya Kembang Jepun bernama Handelstraat yang merupakan pusat perdagangan," ujarnya.

Nama Kembang Jepun diambil dari dua kata, yakni kembang yang memiliki makna bunga, dan jepun berarti Jepang. Memang kawasan Kembang Jepun erat dikaitkan dengan wanita Jepang.

Hal tersebut dibenarkan Sejarawan Universitas Airlangga (Uniar) Shinta Devi Ika Santhi Rahayu. Dosen Ilmu Sejarah Unair itu menuturkan, disebut Kembang Jepun karena di sana banyak terdapat penginapan, serta warung yang ditinggali perempuan Jepang. “Mereka memiliki paras cantik dan berprofesi sebagai karayukisan (wanita penghibur, red),” ujarnya.

Photo
Photo
Pintu masuk Jalan Kembang Jepun dari arah Jembatan Merah atau zona Eropa. (ISTIMEWA)

Menurut Shinta, karayukisan merupakan perempuan penghibur Jepang yang mulai menyebar ke berbagai negara era Restorasi Meiji. Diperkirakan sekitar tahun 1860-an mereka mulai masuk ke Surabaya.

Karayukisan berbeda dengan gheisa. Sama-sama perempuan penghibur, namun karayukisan lebih ke arah pekerja seks komersial. Meskipun para perempuan itu sudah berangsur meninggalkan Surabaya sejak 1942, tetapi sebutan itu bertahan hingga kini.

“Bahkan kondisi saat itu menjadi topomini kawasan tersebut. Digunakan sebagai nama kawasan menggantikan Handelstraat menjadi Jalan Kembang Jepun,” tukasnya. (mus/nur) Editor : Administrator
#Karayuki-san #Jejak Prostitusi Jepang #Penamaan Kembang Jepun