Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Ngagel Jadi Kawasan Industri di Masa Kolonial Belanda

Lambertus Hurek • Jumat, 15 Juli 2022 | 03:02 WIB
PERNAH JAYA: Salah satu bangunan bekas pabrik tua di Ngagel yang kini terbengkalai. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)
PERNAH JAYA: Salah satu bangunan bekas pabrik tua di Ngagel yang kini terbengkalai. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)
SURABAYA - Sejak masa kolonial Belanda dulu Ngagel dijadikan sebagai kawasan industri di Surabaya. Hal tersebut dapat dilihat dengan adanya industri pengolahan logam, pabrik rokok dan bir.

Pemerhati sejarah dan budaya Kota Surabaya dari Komunitas Surabaya Historical, Nur Setiawan mengatakan, Surabaya adalah kota industri dan pilar manufaktur. Keberadaan Ngagel industrial estate pada masa kolonial menghasilkan beragam produk industri.

Roda industri berjalan dinamis memenuhi pasokan dalam maupun luar negeri kala itu. "Jadi di Ngagel dulu pertama kali terdapat industri pengolahan logam, pabrik rokok dan bir," kata Nur Setiawan.

Kemudian berkembang menjadi kawasan industri terpadu (industrial estate) di tanah bekas pabrik gula Ngagel, yang terletak di antara sungai Kalimas dan jalur kereta api. Kawasan ini merupakan kawasan industri terpadu pertama di Indonesia yang digagas oleh pemerintah.

"Tanah tersebut semula adalah perkebunan tebu dan kawasan pabrik gula yang dimiliki oleh pemilik tanah partikelir Tjoa Tjwan Khing.

Kawasan tersebut dibeli oleh pihak Gemeente (pemerintah kota) Surabaya pada tanggal 16 Oktober 1916 dengan akta pembelian tertanggal 20 Maret 1917," jelasnya.

Pembelinya adalah Burgemeester (wali kota) Surabaya, yang pada saat itu dijabat oleh Mr. A. Meyroos. Harga keseluruhan tanah tersebut adalah 850.000 gulden, yang dibayar kontan. Kemudian tanah tersebut di kavling dan dijualnya kepada investor.

Salah satu investor dalam bidang industri yang membeli tanah di Ngagel adalah NV. Machinefabriek Braat. Tanah yang dibeli oleh perusahaan pabrik mesin tersebut seluas 150.000 meter persegi seharga 150.000 gulden.

Pada tahun 1920, NV. Machinefabriek Braat mulai membangun pabriknya di kawasan ini. Setelah pabrik mesin, Braat membangun pabriknya di Ngagel, berturut-turut di kawasan tersebut dibangun beberapa pabrik lain yaitu N.V. Contsructiewerkplaats Noordijk, N.V. Contsructiewerkplaats Bakker, N.V. Smederij en Gieterij de Vulcaan, dan Constructie Werkplaats Eiffel.

Tidak semua tanah di Ngagel yang dibeli oleh gemeente dipergunakan untuk pabrik. Di bagian timur pabrik dibangun pula kawasan perumahan untuk pekerja industri Ngagel. Pada 30 Mei 1924 pihak gemeente memberikan sebagian tanah di kawasan ini kepada perusahaan kereta api secara cuma-cuma agar dipergunakan untuk keperluan industri perkeretaapian.

Kawasan industri Ngagel kemudian berkembang menjadi kawasan industri terkemuka yang memantapkan posisi kota Surabaya sebagai kota industri. "Pada tahun 1921 jumlah industri manufaktur di kota Surabaya sebanyak 293, yang menyerap tenaga kerja sebanyak 18.254 orang," tukasnya. (jar/nur) Editor : Lambertus Hurek
#pabrik mesin Braat Ngagel #industri Ngagel zaman belanda #pabrik gula Ngagel #kawasan Ngagel industri