"Kebaktian di gedung tersebut (GKJW) berlangsung hingga 10 Juni 1973. Pengalaman sejarah ini menunjukkan pentingnya membangun relasi dan kerja sama pelayanan dengan gereja-gereja lain sebagai sesama tubuh Kristus," kata pegiat sejarah Nur Setiawan.
Ia menjelaskan, adanya gedung yang baru ini membuat GKI Diponegoro memiliki lebih banyak kesempatan untuk bertumbuh dan mengembangkan pelayanan. Satu tahun kemudian, tepatnya 3 April 1974 GKI Diponegoro dinyatakan secara resmi sebagai jemaat yang dewasa dan mandiri.
Dengan demikian dimulailah babak baru kehidupan jemaat di Jalan Diponegoro 146. Aktivitas bergereja tak lagi terbatas hanya pada kebaktian hari Minggu.
Kegiatan seperti pembinaan dan pelatihan mulai dilakukan bagi jemaat sehingga jemaat diperlengkapi dan dapat terlibat dalam berbagai bentuk pelayanan. Oleh karena itulah mulai dibentuk badan-badan pelayanan kategorial yang sesuai dengan kebutuhan dan talenta jemaat.
"Jadi dahulu pembentukan gereja ini karena kondisi sekitar banyak dihuni oleh orang Eropa, sehingga pemerintah Hindia Belanda membuat sebuah gereja," terangnya.
Seiring dengan pergerakan kemerdekaan Indonesia dan tumbuhnya nasionalisme dalam diri umat Kristen, November 1958 namanya pun berubah. Gereja dengan mayoritas jemaat Tionghoa itu berubah nama menjadi Gereja Kristen Indonesia.
"Gereja Kristen Indonesia Jatim Kota Besar Surabaya. Kemudian berganti lagi menjadi Gereja Kristen Indonesia Jatim Surabaya. Jemaat ini terus bertumbuh hingga mulai tahun 1967 GKI Jatim Surabaya meliputi lima daerah sesuai pembagian geografis Jalan Diponegoro, Embong Malang, Ngagel, Residen Sudirman dan Johar," ujarnya. (rmt/nur) Editor : Lambertus Hurek