Kampung Ketandan secara administratif masuk kelurahan Genteng, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya. Meski berada di tengah himpitan gedung pencakar langit, di kampung Ketandan masih dijumpai rumah warga dengan gaya arsitektur kolonial.
Pegiat Sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono mengungkapkan, kawasan kampung Ketandan dahulu merupakan lahan pemakaman dan makam Tionghoa sekitar tahun 1940-an. "Dahulu kampung (rumah warga) hanya ada di pinggir jalan, radius 25 meter dari jalan," ujar Nanang.
Koordinator Begandring Soerabaya ini melanjutkan, untuk rumah-rumah warga berdiri mengikuti atau menghadap jalan. Seperti Jalan Tunjungan, Jalan Praban dan Jalan Embong Malang. Sementara di bagian tengah merupakan lahan makam Tionghoa hingga ke kawasan Kebangsren.
"Sampai sekarang masih ada makam Tionghoa di dalam rumah warga," sebutnya.
Selain itu, kata Nanang, di kampung Ketandan juga ada makam kuno Mbah Buyut Tondo. "Itu salah satu bukti dahulu di kawasan tersebut fungsi pemakaman," paparnya.
Seiring berjalannya waktu, kawasan Ketandan semakin berkembang pesat. Pasca kemerdekaan kemudian rumah-rumah warga semakin banyak. Untuk menjaga kekayaan sejarah di Ketandan Pemkot Surabaya mengembangkannya sebagai kawasan cagar budaya dan objek pariwisata.
Pada tahun 2016 lalu diresmikan Balai Budaya Cak Markeso. Balai budaya yang berbentuk joglo itu dibangun Pemkot Surabaya bekerja sama dengan United Cities Local Goverment Asia Pasific (UCLG ASPAC).
Penamaan balai budaya tersebut untuk sebagai penghormatan kepada seniman tersohor Kota Surabaya. Keberadaan Balai tersebut hingga saat ini dimanfaatkan warga untuk interaksi, dan diskusi warga. Selain itu juga dipakai sebagai tempat untuk menggelar beragam kegiatan seni. (rus/nur) Editor : Lambertus Hurek