Pusatakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, Pasar Turi telah melewati beberapa masa. Mulai era klasik, era kolonial, era kemerdekaan hingga era modernisasi saat ini. Namun tidak bisa dipastikan tanggal dan tahunnya tentang keberadaan awal. "Keberadaannya sudah melewati beberapa masa, tapi nggak bisa ditekankan tanggalnya kapan?. Karena sejak dari zaman dulu sudah ada," kata Chrisyandi.
Bahkan, di Pasar Turi dulu juga menjadi tempat berkumpulnya para warga Surabaya di era kemerdekaan. "Dulu sempat digunakan tempat rapat di era kemerdekaan, seperti di lapangan Ikada (Monas) Jakarta dulu," terangnya.
Ia menyebut, Pasar Turi memang menjadi pusat berkumpulnya para pedagang. Dimungkinkan pedagang yang di sana merupakan penduduk lokal. "Awalnya penduduk sekitar. Namun karena sudah berbagai era, akhirnya banyak pedagang yang masuk. Seperti berjualan makanan, hasil bumi dan sebagainya," tuturnya.
Pasar Turi sempat terbakar beberapa kali. Pertama kalinya di tahun 1950. Pasar Turi juga menjadi sasaran amuk tentara Inggris saat agresi militernya. Pasukan Inggris, Gurkha dan Nica kerap membombardir Pasar Turi dengan mortir. Kemudian terbakar lagi di tahun 1969, 1978, 2002 dan 2007.
Tanggal 9 September 2007 gedung Pasar Turi tinggal menyisakan satu gedung, yaitu Pasar Turi tahap III. Setelah terbakarnya Pasar Turi tahap I, II, dan III 2007 silam, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya membangunkan tempat penampungan sementara (TPS) berupa bangunan tripleks dua lantai yang melingkari kawasan Pasar Turi.
Sayangnya kualitas tempat penampungan yang buruk dan hanya terbuat dari tripleks itu membuat pasar sementara tak banyak ditempati oleh pedagang. Pasar Turi dibangun di areal seluas 4,3 hektare. 2,7 hektare merupakan lahan milik Pemerintah Kota Surabaya dan 1,6 hektare merupakan tanah milik PT Kereta Api.
Rencananya Pasar Turi akan beroperasi kembali di tanggal 22 Maret 2022 di bangunan yang baru, yakni Pasar Turi Baru. (rmt/nur)
Editor : Administrator