Karena perkembangan lalu lintas perdagangan dan peningkatan arus barang serta bertambahnya arus transportasi maka fasilitas dermaga di Jembatan Merah itu akhirnya tidak mencukupi.
“Kemudian pemerintah Belanda menyusun rencana pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak agar dapat memberikan pelayanan kepada kapal-kapal samudera untuk membongkar dan memuat secara langsung tanpa melalui tongkang-tongkang dan perahu-perahu. Akan tetapi rencana ini kemudian ditolak karena biayanya sangat tinggi,” jelasnya, Kamis (10/3).
Selama abad 19 tidak ada pembangunan fasilitas pelabuhan, padahal lalu lintas angkutan barang ke Jembatan Merah terus meningkat. Setelah tahun 1910, pembangunan fisik Pelabuhan Tanjung Perak dimulai. “Seiring dengan berjalannya waktu pelabuhan Tanjung Perak telah pula membuktikan peranan strategisnya sebagai pintu gerbang laut nasional,” katanya.
Freddy mengatakan, pertumbuhan perdagangan di Jawa Timur pada akhir abad ke-19 juga mendorong pertumbuhan industri dan teknologi pendukung keperluan ekonomi yang bertumpu kepada ekspor hasil perkebunan dan pertanian. Maka memasuki abad ke-20, Surabaya telah menjadi kota yang menduduki peringkat kedua setelah Batavia.
“Pelabuhan Tanjung Perak telah memberikan suatu kontribusi yang cukup besar bagi perkembangan ekonomi dan memiliki peranan yang penting, tidak hanya bagi peningkatan lalu lintas perdagangan di Jawa Timur, tetapi juga di seluruh Kawasan Timur Indonesia,” jelasnya.
Sebagai kota perdagangan, Surabaya mulai menunjukan gairahnya sejak liberalisasi ekonomi di Indonesia yang booming tahun 1870. Liberalisasi ekonomi mampu mendorong modal swasta masuk ke Surabaya.
“Dinamika perdagangan di Kota Surabaya abad ke-19 sampai abad ke-20 sangat dipengaruhi oleh merebaknya perkebunan di kawasan pedalaman serta perkembangan industri di kota itu. Selain itu masuknya modal swasta mampu meningkatkan kantor dagang dan bank asing di Surabaya," katanya. (mus/nur) Editor : Administrator