Pou te hi atau orang Indonesia biasa menyebut wayang potehi adalah salah satu pertunjukan wayang yang diselenggarakan di Kelenteng pada perayaan Cap Go Meh. Wayang ini sebenarnya lahir di Tiongkok atau Cina ribuan tahun silam. Wayang ini dibuat oleh narapidana politik menggunakan kain perca atau kain sisa dan bisa dimasuki tangan dan dipertunjukkan dengan cerita-cerita untuk perlawanan politik.
Dosen Universitas Ciputra Surabaya Freddy H Istanto mengungkapkan, wayang potehi ini sampai ke Indonesia khususnya Surabaya dibawa oleh para pendatang. Pada masa itu, banyak pendatang dari Tiongkok yang ke Indonesia dengan tujuan berdagang. Beberapa dari mereka bahkan menetap di Indonesia dan memperkenalkan budaya ini.
"Namun saat itu ceritanya lebih tentang kebajikan, kepahlawanan, dan misi kebenaran. Bukan politik lagi," katanya.
Ia mengungkapkan, wayang potehi dulu seperti boneka Pak Ogah, Unyil dan lainnya. Boneka ini digerakkan dengan tangan dan ada alur ceritanya. Dulu, wayang tersebut diperagakan oleh dalang yang juga warga Tionghoa. Namun, sekarang dalang wayang potehi malah banyak orang Jawa. Meskipun musik dan lainnya masih tetap menggunakan ciri khas Tiongkok.
Freddy menambahkan, kemungkinan ada suatu penyimpangan budaya. Bukan lagi orang Tiongkok yang menjadi dalang malah orang Jawa. Kemungkinan ini terjadi karena pada masa orde baru orang Tiongkok sempat dilarang berkegiatan, sehingga ini menjadi kekosongan yang akhirnya generasi ini dan budaya ini diteruskan orang Jawa.
"Ini opini saya, atau bisa jadi orang Tiongkok mengajarkan pada orang Jawa sehingga sekarang dalangnya jadi orang Jawa," jelasnya.
Kesenian ini dapat dijumpai di kelenteng-kelenteng yang ada di Surabaya. Kesenian ini meskipun dalangnya kebanyakan bukan lagi orang asli Tionghoa, namun tetap dilestarikan. (gun/nur) Editor : Lambertus Hurek