Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kampung Jagalan Tempo Doeloe Jadi Tempat Jagal Sapi

Lambertus Hurek • Selasa, 15 Februari 2022 | 03:01 WIB
SUDAH BERUBAH: Situasi Jalan Jagalan ramai aktivitas warga. (MAHRUS/RADAR SURABAYA)
SUDAH BERUBAH: Situasi Jalan Jagalan ramai aktivitas warga. (MAHRUS/RADAR SURABAYA)
SURABAYA - Kampung Jagalan, Peneleh, merupakan salah satu kampung tua bersejarah. Kampung ini konon dijuluki jagalan karena jauh sebelum bangsa kolonial datang, dipakai tempat jagal sapi.

Entah kapan pastinya penamaan Jagalan itu dicetuskan banyak yang belum tahu. Namun sebelum kedatangan bangsa Belanda. Kampung yang berada di sisi timur Kalimas ini sudah ramai dan banyak dikenal orang sebagai Kampung Jagalan. Termasuk juga Jalan Jagalan.

Menurut salah satu tokoh masyarakat setempat yang bernama Mastholieq, penamaan kampung Jagalan dan Jalan Jagalan ini bermula dari aktivitas para penduduk setempat yang mayoritas berprofesi sebagai penjual daging jagal sapi. "Menurut cerita orang tua saya dikatakan Jagalan karena banyaknya warga yang bekerja sebagai penjual daging sapi jagal," kata Mastoeliq.

Mastoeliq menambahkan, dahulu orang tua dan kakeknya juga salah satu yang menjadi bagian dari kampung Jagalan yang berprofesi sebagai penjual daging sapi jagal. "Di sini dahulu banyak pengusaha asal Jawa yang menjual daging sapi. Sapi-sapi itu didapat dari Jember, Lumajang dan daerah lainnya di Jawa Timur," ungkapnya.

Pengamat Sejarah Kota Surabaya Eddie Emmanuel Samson mengatakan, memang benar Kampung Jagalan dahulu merupakan tempat untuk menjagal sapi untuk dijual dagingnya. "Benar. Di situ dahulu digunakan sebagai tempat jagal sapi. Tapi ada cerita juga yang mengatakan bahwa di kawasan Jalan Jagalan juga tempat menjagal manusia," kata Eddie Emmanuel Samson kepada Radar Surabaya.

Eddie melanjutkan, kawasan Jalan Jagalan sebelum Belanda tiba sudah ramai dengan aktivitas ekonomi perdagangan dari penduduk. Sebagai penjual daging adalah profesi mayoritas penduduk setempat terutama yang berasal dari suku Jawa.

Hal senada juga dikatakan pegiat sejarah Nanang Purwono. Pihaknya menyebut pada masa keraton Surabaya dahulu kawasan timur Kalimas banyak ditempati kluster para pekerja. "Seperti Jagalan tempat jagal, Pandean tempat pandai besi, dan Plampitan tempat pembuat anyaman tikar," ucapnya. (rus/nur) Editor : Lambertus Hurek