RSUD Dr Soetomo menjadi RS pendidikan untuk mahasiswa kedokteran Nederlandsch Indische Arstsen School (NIAS), selain berfungsi pelayanan kesehatan masyarakat Surabaya dan sekitarnya.
Pada tahun 1943-1945, rumah sakit yang dikenal dengan nama RS Karang Menjangan dijadikan Rumah Sakit Angkatan Darat. Pada tahun 1945, rumah sakit tersebut kembali dikuasai Belanda hingga tahun 1949. Saat itu nama RS Angkatan Darat diganti dengan nama Marine Hospitaal (RS AL Belanda).
RS tersebut kembali berubah menjadi Roemah Sakit Oemoem Soerabaya dan di bawah Departemen Kesehatan RI, rumah sakit diganti nama menjadi Rumah Sakit Umum (RSU) Pusat.
Pada tahun 1951-1954, RS Simpang pindah ke Karang Menjangan. Namun untuk pelayanan bedah akut tetap dilayani di RS Simpang. Berdasarkan SK. Menkes RI. 20 Mei 1964 No.26769/KAB/76. RSUP Surabaya menjadi RS Dr Soetomo dan berdasarkan PP. No.4 Tahun 1965, penyelenggaraan RSUP Dr. Soetomo diserahkan kepada Pemda Tingkat I Jawa Timur.
Direktur RSUD Dr Soetomo Dr Joni Wahyuhadi mengatakan, pada tahun 1979, SK Menkes menetapkan RSU Daerah DR. Soetomo sebagai RS Kelas A dan dikenal sebagai Rumah Sakit Pelayanan, Pendidikan dan Penelitian, Rumah Sakit Pusat Rujukan Wilayah Indonesia Timur (Top Referal), dan Rumah Sakit terbesar di wilayah Indonesia bagian timur.
Kemudian RS Simpang dijual lalu menjadi Plaza Surabaya dan semua pelayanan dijadikan satu di RSUD Dr Soetomo. Pada tahun 2002, Perda Provinsi Jatim menetapkan perubahan nama menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soetomo. Saat ini RSUD Dr Soetomo menempati lahan seluas 16.6061 hektare.
“Selain itu, RSUD Dr Soetomo berlanjut sebagai RS pendidikan bagi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) selain untuk pelayanan kesehatan masyarakat Surabaya dan Jatim, bahkan pusat rujukan nasional,” pungkasnya. (mus/nur) Editor : Lambertus Hurek