Pegiat Sejarah Surabaya Nur Satriawan mengungkapkan, pada masa itu pers nasional dikelola oleh tokoh-tokoh pergerakan nasional. Dr Soetomo dengan media Soeara Umum, Indonesia Berjoeang dikelola oleh PNI dan Partindo, Sawunggaling oleh Syarekat Islam, dan masih banyak lagi. Mereka membuat media untuk melawan pers Belanda yang lebih mengutamakan kepentingan penjajah pada masa itu.
Bahkan, perang antar media ini sempat terjadi antara pers Tionghoa-Melayu dan pers milik pemerintah Belanda. Perang ini bermula ketika salah satu pimpinan redaksi Perhimpunan Pers Tionghoa-Melayu Liem Koen Hian ditangkap karena kompetisi sepak bola yang diadakan Belanda sepi penonton. "Ini membuat pers Indonesia membentuk Komite van Actie Persatuan Bangsa Asia," katanya.
Pers saat itu bersatu menyuarakan kesewenang-wenangan Belanda karena menangkap Liem Koen Hian. Mereka bersatu untuk melawan penjajahan pada masa itu. Bahkan salah satunya dengan adanya siaran radio yang mampu mengobarkan semangat arek- arek Suroboyo kala melawan Inggris lewat orasi Bung Tomo. "Pers sudah hidup sejak dulu dan menjadi alat perjuangan para tokoh pejuang kala itu," terangnya. (gun/nur) Editor : Lambertus Hurek