Pegiat Sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono mengatakan, awalnya sebelum ada Masjid Kemayoran, Surabaya memiliki masjid bernama Surapringga. Lokasinya ada di sekitar Tugu Pahlawan yang dahulu merupakan kawasan alun-alun Surabaya.
Keberadaan masjid di sekitar alun-alun Surabaya kemudian digusur paksa oleh Pemerintah Hindia-Belanda karena ada perluasan pembangunan. Aksi penggusuran itu sempat membuat Kiai Badrudin, salah satu imam masjid melakukan perlawanan bersama santrinya.
Hingga akhirnya Kiai Badrudin meninggal dunia tertembak di masjid. Kemudian Kiai Badrudin dijuluki Kiai Sedo Masjid yang makamnya saat ini masih ada di selatan Tugu Pahlawan atau Jalan Tembaan.
"Di dinding masjid itu ada prasasti aksara Jawa. Masjid dibangun sekitar tahun 1848 masehi. Inisiator yang yang meresmikan masjid mulai pembangunannya ada tiga pihak," ujar Nanang, Selasa (25/1).
Pihak tersebut, lanjut Nanang, adalah JJ Ruchusson Gubernur Jendral Hindia Belanda, Daniel Frascois Willem Pietermaat Residen Surabaya dan Raden Tumenggung Kromojoyodirono, Bupati Surabaya kala itu.
"Masjid Kemayoran direnovasi tahun 1934. Masjid sebagai pengganti masjid lama yang dihancurkan. Masjid Kemayoran itu dibangun di atas lahan yang sebelumnya pernah ada musala atau tempat ibadah kecil," bebernya.
Masjid Kemayoran sendiri memiliki gaya arsitektur Tionghoa Jawa dan memiliki kubah warna hijau tua. Bangunan utama digunakan sebagai tempat ibadah. Bangunan masjid dahulu memiliki dua menara. Namun, saat ini hanya tinggal satu menara. (rus/nur) Editor : Lambertus Hurek