Di antara wilayah yang masih ada jasa perahu tambangan, untuk sungai Kalimas ada di Jalan Ngagel, Wonokromo. Sementara Kali Surabaya ada di kawasan Jambangan, Pagesangan, dan Karangpilang.
Pegiat Sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono mengatakan, jasa perahu tambangan di Kota Surabaya sudah ada sejak zaman Majapahit atau abad ke-15 masehi. Hal itu berdasarkan catatan pada Prasasti Canggu tahun 1358 masehi yang ditemukan di wilayah Canggu, Mojokerto.
Dalam prasasti yang dikeluarkan Raja Hayam Wuruk itu disebutkan ada beberapa nama desa yang masuk wilayah administratif Kota Surabaya melayani jasa tambangan atau penyeberangan. "Di antaranya i gesang (Pagesangan), i Bkul (Bungkul), dan i Churabaya (Surabaya)," ujar Nanang kepada Radar Surabaya.
Nanang melanjutkan, di kawasan Ngagel dahulu masuk wilayah i Bkul atau Bungkul. Sementara, i Churabaya (Surabaya) diperkirakan berada di sekitar kawasan Peneleh. "Untuk yang di Kalimas jasa penyeberangan tinggal satu. Ya di Ngagel itu, yang menghubungkan Ngagel ke Dinoyo dan sebaliknya," bebernya.
Menurutnya, dahulu di Kalimas sekitar Ngagel ada empat titik lokasi jasa perahu tambangan. Di wilayah utara juga ada. "Tambangan merupakan bukti peradaban maritim Majapahit," katanya.
Karena masih ada, lanjut Nanang, sudah barang tentu keberadaan perahu tambangan harus dilestarikan. "Untuk saat ini memang masih digunakan penyeberangan secara praktis oleh warga, Namun belum difungsikan sebagai tempat wisata," ungkapnya.
Menurutnya, bila dijadikan wisata tentu akan menjadi potensi ekonomi dan sarana edukasi tentang sejarah Kota Surabaya.
Sementara itu salah satu warga Karangpilang, Rahmat mengaku, alasan kerap memakai perahu tambangan karena lebih cepat dan efisien. "Lebih cepat, efisiensi waktu tanpa harus memutar arah. Untuk biaya sekali menyeberang Rp 1.000," ucapnya.
Pria yang akrab disapa Cak Mat ini menuturkan, alasannya memakai perahu tambangan juga untuk menghindari kemacetan di jam-jam tertentu. (rus/nur) Editor : Lambertus Hurek