“Posisi pelabuhan ini penting bagi lokal dan internasional karena letak geografisnya yang aman dan terlindung Pulau Madura,” ujar Ketua Surabaya Heritage Society Freddy H Istanto, Senin (25/10).
Freddy mengatakan, dulu kapal-kapal samudera membongkar dan memuat barang-barangnya di selat Madura untuk kemudian dengan tongkang dan perahu-perahu dibawa ke Jembatan Merah (pelabuhan pertama saat itu) yang berada di jantung kota Surabaya melalui sungai Kalimas. Karena perkembangan lalu lintas perdagangan dan peningkatan arus barang, serta bertambahnya arus transportasi maka fasilitas dermaga di Jembatan Merah itu akhirnya tidak mencukupi.
“Kemudian Belanda menyusun rencana pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak agar dapat memberikan pelayanan kepada kapal-kapal samudera untuk membongkar dan memuat secara langsung tanpa melalui tongkang-tongkang dan perahu-perahu. Akan tetapi rencana ini kemudian ditolak karena biayanya sangat tinggi,” jelasnya.
Selama abad 19 tidak ada pembangunan fasilitas pelabuhan, padahal lalu lintas angkutan barang ke Jembatan Merah terus meningkat. Setelah tahun 1910, pembangunan fisik Pelabuhan Tanjung Perak dimulai. “Seiring dengan berjalannya waktu pelabuhan Tanjung Perak telah pula membuktikan peranan strategisnya sebagai pintu gerbang laut nasional,” katanya.
Freddy menuturkan, pertumbuhan perdagangan di Jatim pada akhir abad ke-19, juga mendorong pertumbuhan industri dan teknologi pendukung keperluan ekonomi yang bertumpu kepada ekspor hasil perkebunan dan pertanian. Maka memasuki abad ke-20, Surabaya telah menjadi kota yang menduduki peringkat kedua setelah Batavia.
“Pelabuhan Tanjung Perak telah memberikan suatu kontribusi yang cukup besar bagi perkembangan ekonomi dan memiliki peranan yang penting tidak hanya bagi peningkatan lalu lintas perdagangan di Jatim, tetapi juga di seluruh Kawasan Timur Indonesia,” jelasnya. (mus/nur) Editor : Lambertus Hurek