RADAR SURABAYA – Siapa sangka, daun agel yang dulu hanya dianggap tanaman liar kini menjelma menjadi produk fashion bernilai tinggi dan menembus pasar internasional.
Dari tangan para perajin, serat daun agel dirajut menjadi tas perempuan, karpet, tali hingga berbagai produk kerajinan yang memiliki desain kekinian. Produk tersebut tidak hanya dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga telah menembus pasar internasional.
Baca Juga: HUT ke 81 Jawa Timur, Pemprov Kembali Berikan Pembebasan Pajak Daerah Mulai 1 Oktober
Transformasi tanaman liar menjadi komoditas bernilai tinggi itu dilakukan oleh Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Bangkalan, Madura yang bernama CV Daun Agel.
Usaha yang bermula dari inisiatif Faiqotul Himmah pada 2008 tersebut sejak awal membawa misi sederhana, yakni memanfaatkan potensi alam sekitar sekaligus membuka sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.
Wanita yang akrab disapa Faiq ini mengaku ide tersebut muncul saat dirinya masih bekerja di lembaga internasional yang fokus melakukan pendampingan terhadap perempuan.
Baca Juga: Perda Disabilitas Disahkan, Pemprov Jatim Siapkan Pergub dan Program Inklusif
“Awalnya saya sering memberikan pelatihan kepada ibu - ibu membuat rajutan dari benang. Karena produk bahan dari benang persaingannya sangat ketat, saya memilih mencari alternatif lain,” ungkapnya, Kamis (10/9/2026).
Saat di pasar tradisional di Kecamatan Kokop, Faiq menemukan yang tali agel. Tali ini berasal daun tanaman sejenis palem (Corypha utan) yang dipilin. Tanaman yang juga dikenal dengan sebutan agel ini oleh masyarakat Madura mengenal tanaman ini dengan sebutan pocok.
“Daun tanaman ini memiliki serat yang kuat dan elastis, setelah dipilin maka namanya jadi tali agel. Karena bahan dasarnya daun, maka UMKM kami branding Daun Agel dan sudah sertifikat Hak atas Kekayaan Intelektual(HaKI),” katanya.
Baca Juga: DPRD Jatim Minta Pemprov Gerak Cepat Selamatkan Lahan dari Kekeringan
Ia mengajak perempuan di Desa Kelbung, Kecamatan Sepuluh dan Desa Dupok, Kecamatan Kokop, untuk mengolah tanaman yang selama ini tumbuh liar menjadi produk kerajinan. Gagasannya sederhana. Memanfaatkan apa yang tersedia di alam sekitar untuk menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat sekaligus mengurangi limbah akibat pembakaran.
“Untuk tali agel, para perajin yang rumahnya berada di pegunungan kapur, harus menyetorkan hasil pilinannya di Pasar Tradional Kokop. Cara ini membuat mereka tetap bisa menghasilkan uang tanpa harus meninggalkan keluarga,” ujarnya.
Untuk produk dari tali agel, kini Faiq juga mempercayakan kepada putranya Mohammad Risfanda Himawan. Tujuannya agar bisa timbuh dan berkembang mengikuti zaman, namun tidak meninggalkan ciri khas Madura.
Baca Juga: Dorong Pemerataan Ekonomi Daerah, BRI dan Pemprov Maluku Utara Perkuat UMKM dan Potensi Desa
Mohammad Risfanda Himawan, yang kini menjadi Supervisor Daun Agel mengatakan usaha tersebut terus dikembangkan dengan mengedepankan produk ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Sebagai bentuk inovasi, kami menghadirkan produk yang ramah lingkungan, berkelanjutan, dan memiliki opsi inovasi produk yang cukup beragam,” ucapnya.
Menurut Risfanda, salah satu kekuatan produk daun agel terletak pada bahan bakunya yang berasal dari sumber daya alam lokal. Tanaman agel selama ini tumbuh liar dan dianggap tidak memiliki nilai penting oleh sebagian masyarakat. Namun, kondisi tersebut justru menjadi peluang bagi warga untuk mengembangkan potensi yang ada di sekitar mereka.
“Kami memanfaatkan kekayaan alam yang ada karena tanaman agel tumbuh dan dianggap tanaman liar bagi warga lokal. Tetapi kami juga sudah mulai membudidayakan tanaman agel untuk menjaga kuantitas produksi dan mencegah eksploitasi sumber daya alam,” katanya.
Untuk menghasilkan sebuah tas, perjalanan bahan bakunya cukup panjang. Daun yang dipanen tidak serta-merta dapat langsung dirajut. Daun terlebih dahulu diolah menjadi serat yang lebih lentur dan mudah dibentuk. Para perajin menggunakan peralatan sederhana seperti pisau dan cutter untuk menyisir sekaligus melunakkan daun. Serat tersebut kemudian dipilin hingga membentuk tali agel.
Tali yang baru selesai dipilin selanjutnya dikeringkan. Setelah benar-benar kering, bahan tersebut baru dapat digunakan sebagai material utama untuk berbagai produk rajutan.Dari sinilah keterampilan tangan para perajin memainkan peranan penting. Tali agel dirajut menjadi tas, karpet dan berbagai produk lainnya sesuai desain serta permintaan pelanggan.
Untuk produk tas, prosesnya belum berhenti setelah rajutan selesai. Tas kemudian memasuki tahap pemasangan furing dan resleting. Pelanggan juga diberikan keleluasaan menentukan jenis handle yang digunakan, baik menggunakan tali agel maupun handle custom sesuai permintaan.
Proses yang masih mengandalkan keterampilan tangan tersebut membuat setiap produk memiliki karakter tersendiri. Kerumitan rajutan, ukuran dan desain turut menentukan harga. Hasil kerajinan UMKM ini dibanderol mulai Rp 50 ribu hingga Rp 1 juta per produk. Untuk pembelian dalam jumlah besar, tersedia pula harga grosir yang disesuaikan dengan jumlah pesanan dan tingkat kesulitan pengerjaan.
Seiring berkembangnya pasar, kapasitas produksi UMKM ini meningkat cukup signifikan. Jika pada awal usaha hanya mampu menghasilkan sekitar 20 produk, kini kapasitas produksi tas mencapai 150 hingga 200 buah per bulan. Sementara itu, produksi karpet berada di kisaran 20 hingga 30 lembar per bulan. Jumlah tersebut sangat bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan desain yang dipesan pelanggan. Untuk tali agel sebagai bahan baku, produksi mencapai 40 hingga 50 kilogram per minggu.
Peningkatan kapasitas tersebut berjalan beriringan dengan pertumbuhan omzet. Saat pertama kali berdiri, usaha tersebut hanya menghasilkan sekitar Rp 2 juta per bulan. Kini omzetnya bisa mencapai sekitar Rp 50 juta per bulan.
“Perkembangan omzet kami memang tidak konsisten dari awal hingga sekarang. Namun, kalau dihitung, pertumbuhannya sekitar 11,5 persen per tahun dan secara total mencapai sekitar 614 persen, tergantung nilai rupiah juga,” terang Risfanda.
Dari sisi kapasitas produksi, pertumbuhannya bahkan jauh lebih besar. Kapasitas produksi disebut telah meningkat sekitar 7,5 hingga 10 kali lipat dibandingkan masa awal usaha. “Pada awalnya sekitar 20 produk, sekarang dapat memproduksi 150 sampai 200 produk per bulan,” katanya.
Pertumbuhan itu menunjukkan bahwa kerajinan berbasis bahan alam tidak selalu identik dengan usaha kecil yang stagnan. Dengan inovasi desain, konsistensi produksi dan kemampuan membaca pasar, bahan sederhana dari desa dapat berubah menjadi komoditas dengan jangkauan pasar luas.
Di balik peluang ekonomi yang besar, ketersediaan bahan baku menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi. Tanaman agel memang banyak ditemukan di sekitar wilayah masyarakat. Namun, jika permintaan terus meningkat tanpa pengelolaan yang baik, eksploitasi justru dapat mengancam keberlanjutan bahan baku.
Karena itu, UMKM ini mulai melakukan budidaya tanaman agel. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga pasokan sekaligus memastikan pemanfaatan tanaman tetap berada dalam batas yang berkelanjutan.
“Selain itu kami memiliki koneksi untuk mendapatkan bahan baku dari luar wilayah,” ungkap Risfanda.
Menurut dia, produksi bahan baku sendiri juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan produksi dan kelestarian alam.
“Kami mengandalkan dua-duanya secara seimbang agar tidak mencapai tahap eksploitasi,” tegasnya.
Bukan hanya bahan baku yang menjadi perhatian. Ketersediaan tenaga terampil juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Saat ini, CV Daun Agel melibatkan sekitar 33 orang pekerja. Mereka berasal dari masyarakat sekitar yang telah bekerja bersama selama bertahun-tahun.
“Kami memang melibatkan masyarakat, khususnya wilayah Desa Kelbung, Kecamatan Sepuluh dan Desa Dupok, Kecamatan Kokop yang sudah bersama menemani kami selama puluhan tahun dan telah terbukti memiliki keterampilan,” ujarnya.
Keterampilan tersebut tidak dapat diperoleh dalam waktu singkat. Untuk perajin baru, proses belajar dilakukan langsung dengan didampingi perajin yang lebih ahli. Perajin baru tidak hanya diberikan teori, tetapi langsung diajak membuat produk rajutan daun agel. Dengan metode tersebut, kemampuan mereka diasah sambil mengikuti standar pengerjaan yang telah diterapkan.
Perubahan zaman juga membuat UMKM iini tidak bisa hanya mengandalkan desain lama. Produk yang dulu identik dengan kerajinan tradisional harus terus beradaptasi dengan selera pasar. Karena itu, inovasi desain dilakukan secara konsisten. Produk baru terus dikembangkan, sementara produk lama diperbarui agar tetap relevan dengan tren.
“Kami menyesuaikan target pasar sendiri, apakah untuk generasi milenial maupun Gen Z. Penyesuaian style produk, desain produk baru dan upgrade produk lama itu semua kami lakukan secara konsisten dari waktu ke waktu,” jelas Risfanda.
Tas menjadi salah satu produk yang kini paling banyak diminati. Khususnya tas rajut perempuan, baik model custom maupun desain minimalis. Selain tas, tali agel dan karpet rajut juga menjadi produk yang memiliki permintaan tersendiri.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena persaingan di pasar kerajinan, khususnya tas perempuan, semakin ketat. Konsumen tidak hanya mempertimbangkan fungsi, tetapi juga desain, tren, keunikan dan cerita di balik sebuah produk.
Untuk pasar domestik, produk Daun Agel telah dikirim ke berbagai wilayah, mulai dari Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Riau, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua hingga Bali. Selain itu, pasar luar negeri juga mulai terbentuk. Produk kerajinan tersebut telah dipasarkan ke Jepang, Singapura, Korea, Cina, India, Prancis, Amerika Serikat, Amerika Latin hingga Swiss.
Pemasaran dilakukan melalui kombinasi kanal digital dan jaringan pelanggan. UMKM ini telah memanfaatkan marketplace seperti Shopee, Tokopedia dan TikTok Shop. Media sosial dan website juga menjadi sarana utama untuk memperkenalkan produk.
Kontribusi penjualan online terhadap omzet cukup besar, meskipun sifatnya fluktuatif. “Penjualan online sendiri cenderung naik turun tergantung pasar, tetapi menyumbang sekitar 45 sampai 67 persen dari total omzet,” tutur Risfanda.
Selain penjualan retail, dalam setahun UMKM ini juga menerima pesanan suvenir dari perusahaan lokal. Pesanan semacam ini memberikan tambahan pasar sekaligus menjaga kesinambungan produksi para perajin.
Risfanda mengungkapkan Pandemi Covid-19 menjadi salah satu titik yang membuat aktivitas usaha meredup. Setelah itu, UMKM ini kembali mendapatkan pesanan dalam jumlah cukup besar. Namun, pesanan tersebut juga membawa tantangan tersendiri karena proses produksinya memiliki tingkat kerumitan yang tinggi. Perubahan teknologi dan pola pasar menjadi tantangan berikutnya.
“Kami hanya konsisten dalam berusaha. Tiada kata berhenti berjuang apa pun kondisinya. Walaupun pertumbuhannya tidak pesat dan bahkan tidak terasa, kami menikmati setiap saat usaha kami,” katanya.
Selama menjalankan usaha, UMKM ini juga pernah mendapatkan pendampingan dan bantuan dalam bentuk pelatihan, fasilitasi hingga proyek sosial media. Namun, Risfanda menyebut kebutuhan saat ini bukan semata-mata pembiayaan. Mernurutnya justru lebih membutuhkan akses pemasaran dan pasar yang lebih luas.
“Ada salah satu harapan kami kepada pemerintah cukup banyak untuk membuat UMKM naik kelas, yakni literasi digital. Jadi bukan hanya digitalisasi, pendampingan pelaporan dan patuh pajak, serta perluasan pasar produk UMKM untuk global dan lokal,” paparnya.
Daun Agel telah memiliki legalitas usaha berupa Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi dan merek. Namun, bagi Risfanda, legalitas dan capaian pasar internasional bukanlah garis akhir. Masih ada tantangan ketersediaan bahan baku, regenerasi perajin, persaingan produk, perubahan tren memperluas pemasaran.
Di tengah tantangan tersebut, satu hal yang ingin dipertahankan adalah keberlanjutan usaha dan manfaatnya bagi masyarakat.
“Kami ingin produk ini terus dikenal, bukan hanya sebagai kerajinan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas daerah. Kami ingin membawa nama Madura sekaligus memastikan usaha ini tetap bisa memberikan pekerjaan bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap keberadaan UMKM yang dirintis ibunya dapat menjadi contoh bahwa inovasi tidak harus selalu lahir dari sesuatu yang mahal atau berteknologi tinggi.“Semoga apa yang kami lakukan bisa memotivasi generasi muda. Inovasi jangan berhenti sebagai ide atau produk saja, tetapi kalau bisa berkembang menjadi usaha yang mampu menyerap tenaga kerja,” harapnya.
Perjalanan Daun Agel turut mendapat dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Koperasi dan UKM Jatim. Pendampingan yang diterima antara lain berupa proyek media sosial oleh East Java Super Corridor (EJSC) Bakorwil Pamekasan. Produk daun agel juga dipasarkan melalui Galeri Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menegah (UKM) Provinsi Jawa Timur.
“Selain itu, juga ada kolaborasi pemasaran melalui sistem konsinyasi dengan Wake Bali di Terminal 2 Bandara Juanda yang difasilitasi Dinkop UKM Jatim,” katanya.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong UMKM naik kelas melalui pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga penguatan legalitas, sumber daya manusia, pembiayaan, kualitas produk, hingga perluasan akses pasar.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur Endy Alim Abdi Nusa mengatakan, berdasarkan data Satu Data UMKM Kementerian UMKM RI, jumlah UMKM di Jawa Timur mencapai 4.586.514 unit usaha.
Dari jumlah tersebut, sekitar 99,71 persen merupakan usaha mikro, sedangkan usaha kecil dan menengah sekitar 0,28 persen. Berdasarkan lapangan usaha, struktur UMKM Jawa Timur didominasi sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 46 persen, penyediaan akomodasi dan makan minum 24 persen, serta industri pengolahan 13 persen. Sisanya sekitar 17 persen bergerak di berbagai sektor lainnya.
Menurut Endy, Pemprov Jatim tidak mendefinisikan UMKM naik kelas hanya berdasarkan peningkatan omzet. Naik kelas dipandang sebagai perubahan kondisi usaha dalam lima aspek utama.
“Naik kelas kami lihat sebagai upaya adanya perubahan yang terjadi pada UMKM dari lima aspek. Yakni kelembagaan, sumber daya manusia, pembiayaan, kualitas produk, dan pemasaran,” ujar Endy.
Dari sisi kelembagaan, UMKM didorong beralih dari usaha informal menjadi usaha formal melalui kepemilikan izin berusaha. Dari sisi SDM, peningkatan kapasitas ditunjukkan antara lain melalui kepemilikan sertifikasi kompetensi.
Sementara pada aspek pembiayaan, UMKM diarahkan agar mampu mengakses permodalan dari perbankan, investor, maupun lembaga keuangan lainnya. Adapun kualitas produk diperkuat melalui berbagai sertifikasi seperti halal, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI), Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), dan sertifikasi produk lainnya.
Aspek pemasaran menjadi bagian penting karena keberhasilan UMKM juga diukur dari kemampuannya bermitra dengan buyer, masuk ke toko ritel modern maupun sektor hotel, restoran, dan cafe/catering (HORECA), hingga menembus pasar ekspor.
“Dari adanya perubahan tersebut, diharapkan adanya peningkatan nilai tambah UMKM sebagaimana indikator kinerja utama Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur,” ujarnya.
Dari berbagai kebutuhan tersebut, Endy menyebut pasar menjadi prioritas utama dalam mendorong UMKM naik kelas. Sebab, menurutnya, muara pemberdayaan UMKM adalah peningkatan nilai tambah dan kesejahteraan pelaku usaha.
Karena itu, pola pembinaan mulai diarahkan tidak hanya pada kemampuan memproduksi barang, tetapi juga memastikan produk tersebut memiliki konsumen. Pelaku UMKM diberikan penguatan jiwa kewirausahaan agar mampu memahami kebutuhan konsumen, menentukan harga, membangun branding, memperbaiki kemasan, memenuhi sertifikasi, memanfaatkan pemasaran digital, hingga dipertemukan dengan calon buyer.
Salah satu bentuk fasilitasi tersebut adalah program Nyomblangin UMKM, yakni mempertemukan UMKM dengan mitra buyer potensial. Pemprov Jatim juga menjalankan misi dagang dengan berbagai daerah dan pasar luar negeri.
Pada 2026, misi dagang telah dilakukan dengan Jawa Tengah, DKI Jakarta, Kalimantan Tengah, Riau, Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, serta Hong Kong dan Malaysia.
Upaya memperluas pasar juga mulai menunjukkan hasil. Pada 2026, tercatat 73 UKM berhasil bermitra atau masuk ritel modern, antara lain melalui PT Wake T2 Bandara Juanda, Astuti Snack dan toko di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Kemudian Omah Jenang Blitar, serta pusat oleh-oleh Rengganis Probolinggo.
Sementara untuk pasar ekspor, Pemprov Jatim masih melakukan penjajakan untuk mempertemukan UKM dengan eksportir. Endy menegaskan, pembinaan UMKM tidak berhenti pada pelatihan. Pendekatan yang dilakukan diarahkan pada pendampingan terintegrasi sesuai kebutuhan masing-masing usaha.
“Program yang paling berpotensi efektif adalah pendampingan yang terintegrasi dan berbasis kebutuhan usaha, bukan hanya sekali pelatihan kemudian selesai,” jelasnya.
Pendampingan dilakukan dalam lima aspek, yakni kelembagaan, peningkatan kualitas produk, pembiayaan, pemasaran, dan SDM. Setelah pelatihan, UMKM juga mendapatkan pendampingan dan monitoring untuk melihat perkembangan usaha.
Legalitas dan sertifikasi juga menjadi bagian penting dari strategi peningkatan daya saing UMKM. Pemprov Jatim memberikan fasilitasi dan pendampingan untuk penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB), Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) / Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT), sertifikasi halal, pendaftaran merek, izin edar, hingga HACCP.
Fasilitasi NIB dilakukan antara lain melalui kegiatan Serangan Gabungan Pembinaan dan Pendampingan (SERGAPP). Untuk produk pangan, pelaku usaha mendapatkan edukasi dan pendampingan pemenuhan persyaratan PIRT/SPP-IRT. Pemprov juga memfasilitasi sertifikasi halal melalui skema self declare maupun reguler, pendaftaran merek, izin edar yang berkoordinasi dengan BPOM, serta HACCP bagi produk yang berpotensi masuk pasar lebih luas.
Data per 20 Juli 2026 menunjukkan sebanyak 688.650 sertifikat halal telah diterbitkan untuk Jawa Timur berdasarkan data SI HALAL BPJPH. Jumlah tersebut terdiri atas 672.887 sertifikat halal self declare dan 15.763 sertifikat halal reguler. Sementara berdasarkan data OSS RBA Provinsi Jawa Timur, hingga 30 Juni 2026 terdapat 2.221.648 pelaku usaha yang telah memiliki NIB.
Meski demikian, masih terdapat pelaku UMKM yang menghadapi kendala biaya, administrasi, kelengkapan dokumen, maupun pengetahuan terkait proses sertifikasi. Pemprov Jatim mengatasinya melalui sosialisasi, bimbingan teknis, coaching clinic, konsultasi, serta fasilitasi pengurusan legalitas dan sertifikasi. Untuk sertifikasi tertentu, biaya difasilitasi melalui APBD Provinsi Jawa Timur.
Di sisi lain, akses pembiayaan masih menjadi salah satu hambatan terbesar UMKM untuk naik kelas. Berdasarkan hasil perhitungan nilai tambah KUMKM 2025 Dinas Koperasi dan UKM Jatim, permodalan menjadi hambatan yang paling menonjol dengan porsi 26,4 persen, disusul daya saing 21 persen dan bahan baku 17,1 persen. Persoalan pembiayaan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan modal. Banyak UMKM juga terkendala jaminan, legalitas usaha, pencatatan keuangan, serta literasi keuangan.
Untuk menjembatani persoalan tersebut, Dinkop UKM Jatim memfasilitasi business matching antara UMKM dan perbankan, mengarahkan pelaku usaha yang memenuhi kriteria ke penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta memberikan coaching clinic penyusunan laporan keuangan sederhana.
Pemprov juga memberikan subsidi bunga melalui Program Kredit Sejahtera(PROKESRA) yang diakses melalui Bank UMKM serta membimbing koperasi penyalur agar memenuhi kriteria pinjaman modal kerja dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) untuk diteruskan kepada anggota UMKM.
Pendampingan pengelolaan keuangan dilakukan agar UMKM tidak hanya memperoleh modal, tetapi juga mampu mengelolanya secara sehat melalui penyusunan rencana bisnis, pencatatan keuangan, dan peningkatan literasi manajemen keuangan.
Transformasi digital juga menjadi bagian dari strategi peningkatan kapasitas UMKM. Dalam pemasaran, pelaku usaha telah memanfaatkan WhatsApp, Instagram, media sosial lainnya, hingga toko daring. Untuk pencatatan keuangan, sebagian UMKM menggunakan Excel maupun sistem kasir otomatis.
Dinkop UKM Jatim juga memiliki berbagai program untuk mendorong UMKM masuk ke ekosistem digital, seperti pendampingan onboarding Jatim Bejo, workshop pemasaran digital, workshop penguatan usaha dan manajerial/IT entrepreneur, live shopping, serta pelatihan kompetensi melalui Sijawara.
Kerja sama dengan sejumlah platform digital juga dilakukan untuk memfasilitasi onboarding marketplace, foto produk, live shopping, optimalisasi akun seller, hingga onboarding GoFood.
Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atauartificial intelligence(AI) juga mulai diperkenalkan melalui pelatihan kepada pelaku UMKM, terutama untuk mendukung produktivitas dan pemasaran.
Pemprov Jatim tidak menetapkan target 2026 semata-mata berdasarkan jumlah UMKM yang dinyatakan naik kelas. Target tersebut tercermin dalam sejumlah indikator pembangunan UMKM dan kewirausahaan.
Pada 2026, kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ditargetkan mencapai 60,11 persen. Proporsi jumlah usaha kecil dan menengah nonpertanian di tingkat provinsi ditargetkan mencapai 3,52 persen hingga 3,58 persen, sementara rasio kewirausahaan daerah ditargetkan berada pada 3,03 hingga 3,11 persen.
Untuk 2029, kontribusi UMKM terhadap PDRB ditargetkan mencapai 60,23 persen. Proporsi usaha kecil dan menengah nonpertanian ditargetkan 3,56 persen hingga 3,62 persen, sedangkan rasio kewirausahaan daerah ditargetkan 3,24 persen hingga 3,34 persen.
Sektor yang dinilai memiliki potensi untuk terus didorong antara lain makanan dan minuman olahan, kopi, pangan unggulan daerah seperti gula aren dan gula kelapa, batik, fashion, kriya, produk halal, serta produk pertanian, perikanan, dan kelautan.
Dengan pendekatan tersebut, strategi Pemprov Jatim untuk mendorong UMKM naik kelas diarahkan pada perubahan yang lebih menyeluruh. “Artinya dari usaha informal menuju formal, dari sekadar mampu memproduksi menjadi mampu mengelola usaha, serta dari hanya memiliki produk menjadi mampu mengakses pasar yang lebih luas,” katanya.
Bagi pemerintah, lanjut Endy, ukuran keberhasilan akhirnya bukan sekadar banyaknya pelatihan yang digelar, melainkan sejauh mana proses pembinaan mampu menghasilkan peningkatan nilai tambah dan kesejahteraan UMKM. (mus/vga)
Editor : Vega Dwi Arista
Sumber : radar surabaya