RADAR SURABAYA – DPRD Jawa Timur (Jatim) berencana memanggil organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk meminta penjelasan sekaligus membahas langkah penanganan atas anjloknya harga telur ayam di tingkat peternak yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Langkah tersebut diambil sebagai respon terhadap keluhan para peternak yang semakin tertekan akibat harga jual telur yang terus merosot di tengah tingginya biaya produksi.
Komisi B DPRD Jatim yang membidangi sektor pertanian, peternakan, dan perdagangan saat ini tengah menyiapkan agenda pemanggilan dinas terkait. Pertemuan tersebut diharapkan dapat menghasilkan solusi konkret guna melindungi peternak rakyat dari kerugian yang semakin besar.
Anggota Komisi B DPRD Jatim, Erma Susanti, membenarkan adanya rencana pemanggilan OPD terkait untuk membahas kondisi tersebut. “Komisi B memang rencana demikian (memanggil dinas terkait),” kata Erma, Rabu (3/6).
Baca Juga: Jatim Kembali Nomor 1 Nasional! 53 Ribu Siswa Lolos PTN 2026, Rekor 7 Tahun Berturut-turut
Menurut Erma, anjloknya harga telur tidak dapat dianggap sebagai persoalan biasa. Kondisi tersebut berpotensi mengancam keberlangsungan usaha peternak ayam petelur di berbagai daerah di Jatim apabila tidak segera ditangani secara serius.
Ia menilai pemerintah perlu hadir dengan kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara produksi dan serapan pasar. Pasalnya, keluhan peternak terus bermunculan seiring harga telur yang belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Baca Juga: Sebulan Empat Warga Tewas Akibat Kebakaran di Surabaya, Korsleting Listrik Masih Jadi Momok
Politisi PDI Perjuangan itu mengingatkan agar pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mencegah peternak mengalami kerugian berkepanjangan yang dapat berujung pada penutupan usaha.
“Fenomena anjloknya harga telur di tingkat peternak ini harus segera dicarikan solusi. Jangan sampai peternak gulung tikar,” tegasnya.
Sebagai salah satu solusi jangka pendek, Erma mendukung penuh upaya pemerintah untuk memberikan subsidi pakan kepada peternak. Menurutnya, biaya pakan yang selama ini menjadi komponen terbesar dalam usaha peternakan perlu mendapatkan perhatian agar beban produksi peternak dapat ditekan.
“Memang perlu, khususnya subsidi pakan ayam, agar peternak tidak colaps,” ujarnya.
Baca Juga: Alasan Telur yang Kita Makan Tidak Akan Pernah Menetas Menjadi Anak Ayam
Selain itu, Erma juga mendorong agar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional (BGN) dapat meningkatkan penyerapan telur sebagai salah satu sumber protein utama dalam menu yang diberikan kepada penerima manfaat.
Menurutnya, peningkatan penggunaan telur dalam program tersebut tidak hanya mendukung pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk membantu menyerap produksi telur peternak yang saat ini melimpah di pasaran. “Juga kebijakan BGN penyerapan telur dalam menu diperbanyak,” pungkasnya. (mus/gun)
Editor : Guntur Irianto