RADAR SURABAYA – Arab Saudi kembali membuka akses impor udang Indonesia setelah mencabut kebijakan penghentian sementara yang diberlakukan sejak tahun lalu.
Kebijakan tersebut menjadi angin segar bagi industri perikanan nasional, termasuk bagi pelaku usaha ekspor udang Jawa Timur yang selama ini menjadi salah satu pemasok terbesar di Indonesia.
Pembukaan kembali pasar Arab Saudi mulai berlaku sejak 24 Mei 2026. Keputusan itu diambil setelah pemerintah Indonesia berhasil meyakinkan otoritas keamanan
pangan Arab Saudi bahwa produk perikanan nasional telah memenuhi standar mutu, keamanan pangan, dan persyaratan kesehatan yang berlaku di negara tersebut.
Baca Juga: Persebaya Kunci Jefferson Silva untuk Musim Depan, Catatan Impresif Jadi Pertimbangan
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur,
Erivina Lucky Kristian, mengatakan terbukanya kembali pasar Arab Saudi dapat menjadi peluang baru untuk memperluas tujuan ekspor produk perikanan Jawa Timur.
Meski demikian, hingga saat ini Jawa Timur tercatat belum pernah melakukan ekspor udang ke Arab Saudi.
Karena itu, pasar yang kembali terbuka tersebut dinilai berpotensi menjadi alternatif tujuan ekspor di tengah dinamika perdagangan global yang terus berkembang.
"Sejauh ini Jawa Timur belum pernah melakukan ekspor udang ke Arab Saudi. Namun, pembukaan kembali pasar tersebut tentu menjadi peluang yang baik untuk diversifikasi pasar ekspor produk perikanan Jawa Timur," ujar Lucky kepada Radar Surabaya, Senin (1/6).
Menurutnya, diversifikasi pasar menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap negara tujuan ekspor tradisional sekaligus memperkuat daya saing produk perikanan Jawa Timur di pasar internasional.
Kinerja Ekspor Udang Jawa Timur Terus Meningkat
Data Disperindag Jawa Timur menunjukkan kinerja ekspor udang Jawa Timur terus mengalami pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Wawali Armuji: Surabaya Contoh Harmoni di Tengah Keberagaman
Pada 2024, volume ekspor udang mencapai 89,3 juta kilogram dengan nilai ekspor sebesar 753,7 juta dolar AS.
Setahun kemudian, angka tersebut meningkat menjadi 93,9 juta kilogram dengan nilai ekspor mencapai 893,1 juta dolar AS.
Secara tahunan, volume ekspor tumbuh sekitar 5,2 persen, sedangkan nilai ekspor melonjak hampir 18,5 persen.
"Peningkatan nilai ekspor ini menunjukkan bahwa produk udang Jawa Timur masih memiliki daya saing yang kuat di pasar internasional. Permintaan dari negara-negara tujuan utama juga masih cukup baik," kata Lucky.
Sementara itu, selama periode Januari hingga Februari 2026, ekspor udang Jawa Timur telah mencapai 15,3 juta kilogram dengan nilai perdagangan sebesar 157,4 juta dolar AS.
Capaian tersebut menunjukkan permintaan global terhadap komoditas unggulan perikanan Jawa Timur masih terjaga meskipun dunia usaha menghadapi tantangan ekonomi dan logistik.
Arab Saudi Berpotensi Jadi Pasar Baru
Lucky menilai kembalinya akses pasar Arab Saudi dapat memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekspor perikanan Jawa Timur dalam beberapa tahun mendatang.
"Dengan terbukanya kembali pasar Arab Saudi, kami berharap pelaku usaha di Jawa Timur dapat memanfaatkan peluang ini untuk memperluas pasar dan meningkatkan nilai ekspor produk perikanan, khususnya udang," tuturnya.
Saat ini, pasar utama ekspor udang Jawa Timur masih didominasi Amerika Serikat, Jepang, Taiwan, China, dan Kanada.
Amerika Serikat menjadi negara tujuan terbesar, diikuti Jepang yang selama bertahun-tahun menjadi pasar penting bagi produk perikanan Indonesia.
Dengan kembali dibukanya impor udang Indonesia oleh Arab Saudi, pelaku usaha perikanan Jawa Timur memiliki peluang untuk memperluas jaringan perdagangan internasiona.(mus)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan