RADAR SURABAYA - Tradisi sakral Yadnya Kasada kembali digelar oleh masyarakat Tengger di kawasan Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo.
Rangkaian ritual dimulai dengan Mendak Tirta pada Jumat (29/5) dan akan mencapai puncaknya pada Senin (1/6) dini hari di Pura Luhur Poten dan Kawah Bromo.
Demi kelancaran acara, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup sementara kawasan wisata Bromo bagi wisatawan umum mulai 30 Mei hingga 2 Juni 2026.
Baca Juga: Jip Wisata Bromo Kecelakaan Jumat Pagi, Wisatawan dan Sopir Tewas
Rangkaian Ritual
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kabupaten Probolinggo, Akhmad Arief Hermawan, menjelaskan bahwa Mendak Tirta dilakukan dengan mengambil air suci dari beberapa sumber, seperti Madakaripura, Goa Widodaren, Sumber Semanik, Merumoyo, Rondo Kuning, dan Sumber Pitu. Air suci tersebut kemudian dibawa ke Pura Luhur Poten.
“Yadnya Kasada terdiri dari dua rangkaian. Rangkaian inti berupa ritual keagamaan masyarakat Tengger dan rangkaian pendukung untuk pelestarian budaya,” kata Arief, Minggu (31/5).
Selain Mendak Tirta, masyarakat Tengger juga menggelar Atur Suguh di 35 titik kawasan Tengger sebagai persembahan kepada Sang Hyang Widhi.
Baca Juga: Polda Jatim Bubarkan Tawuran di Dupak Surabaya, Enam Remaja Diamankan
Sebagai bagian dari pelestarian budaya, resepsi adat digelar di Pendopo Agung Desa Ngadisari dengan pengukuhan lima tokoh sebagai warga kehormatan sesepuh Tengger.
Acara juga menampilkan kesenian tradisional khas Sukapura dan Tengger, seperti ketimplung, tari Reog Tengger, jathilan, tari Senduk, tari Angguk, tari Andira, hingga sendratari Roro Anteng Joko Seger.
Kapolres Probolinggo, AKBP M. Wahyudin Latif, menyebutkan bahwa sekitar 92 personel diterjunkan untuk pengamanan di jalur, lautan pasir, Pura Luhur Poten, dan kawah Bromo.
Baca Juga: Surabaya Rayakan HJKS ke-733, Momentum Perkuat Nilai Pancasila dan Dorong Pembangunan
“Kami mengimbau peserta menjaga ketertiban dan tidak membawa sound system, petasan, atau menggunakan knalpot bising,” tegasnya.
Balai Besar TNBTS menegaskan bahwa penutupan kawasan wisata Bromo dilakukan demi menjaga kekhusyukan ritual. Wisatawan baru diperbolehkan masuk kembali setelah 2 Juni 2026.
Yadnya Kasada 2026 bukan hanya ritual keagamaan masyarakat Tengger, tetapi juga momentum pelestarian budaya yang menarik perhatian wisatawan.
Penutupan kawasan wisata Bromo selama empat hari menjadi langkah penting untuk menjaga kekhusyukan upacara sekaligus melindungi kelestarian tradisi. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari