RADAR SURABAYA – Stok hewan kurban di Jawa Timur dipastikan dalam kondisi surplus menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, juga menegaskan bahwa seluruh ternak dalam kondisi sehat dan bebas dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Lumpy Skin Disease (LSD).
Kepastian tersebut disampaikan saat Khofifah meninjau sentra peternakan UD Sapi Baru di Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Sabtu (2/5).
Dalam kunjungan itu, ia didampingi Wakil Bupati Nganjuk, Trihandy Cahyo Saputro, serta Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur, Indyah Aryani.
Dalam peninjauan tersebut, Khofifah melihat langsung peternakan milik Mursyid yang memiliki sekitar 200 ekor sapi jenis Peranakan Ongole (PO), Limosin, dan Simental.
Peternakan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga memasok ke berbagai daerah seperti Kalimantan dan Jawa Tengah.
Baca Juga: Konsistensi Jadi Kunci, Pola Makan Teratur Lebih Efektif Turunkan Berat Badan
“Alhamdulillah, kondisi sapi-sapi di sini sehat dan besar. Bahkan ada yang bobotnya lebih dari satu ton. Ini menjadi indikator bahwa kualitas ternak kita sangat baik,” ujar Khofifah.
Menurutnya, sektor peternakan Jawa Timur yang saat ini menempati peringkat pertama secara nasional menjadi faktor utama terjaganya ketersediaan hewan kurban, terutama saat permintaan meningkat menjelang Idul Adha.
Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Jawa Timur, kebutuhan hewan kurban tahun ini diproyeksikan mencapai 427.060 ekor.
Rinciannya meliputi 70.550 ekor sapi, 297.900 ekor kambing, 58.600 ekor domba, serta 10 ekor kerbau.
Namun, ketersediaan ternak jauh melampaui kebutuhan tersebut. Untuk sapi, tersedia 629.119 ekor atau surplus 558.569 ekor.
Kambing mencapai 940.693 ekor (surplus 642.793 ekor), domba 484.468 ekor (surplus 452.868 ekor), dan kerbau 1.698 ekor (surplus 1.688 ekor).
“Kondisi ini menunjukkan Jawa Timur mengalami surplus signifikan di semua jenis ternak kurban dan siap menyuplai kebutuhan daerah lain,” tegasnya.
Baca Juga: Haji 2026: Klinik Embarkasi Surabaya Diserbu Jemaah Haji, Hipertensi Jadi Keluhan Terbanyak
Selain kuantitas, Pemprov Jatim juga memastikan kualitas dan kesehatan hewan kurban.
Berbagai langkah telah dilakukan, mulai dari vaksinasi, penerapan biosekuriti, hingga pengobatan ternak secara berkala.
Pengawasan kesehatan diperketat melalui pemeriksaan ante mortem (sebelum pemotongan) dan post mortem (setelah pemotongan) oleh petugas di seluruh wilayah Jawa Timur.
Dinas Peternakan Jawa Timur juga telah menyiapkan ribuan tenaga pemeriksa, terdiri atas 950 dokter hewan medik veteriner, 1.500 paramedik veteriner, 145 pengawas bibit ternak, 75 pengawas mutu pakan, serta 1.997 juru sembelih halal (Juleha) bersertifikat.
“Jelang Idul Adha, kami terus memastikan seluruh ternak bebas dari penyakit, terutama PMK dan LSD, agar daging yang dikonsumsi masyarakat aman,” jelas Khofifah.
Ia menambahkan, pengendalian penyakit ternak seperti PMK dalam dua tahun terakhir dilakukan secara ketat, termasuk penutupan sementara pasar hewan jika ditemukan indikasi penyebaran penyakit.
“Dengan pengawasan ini, masyarakat tidak perlu khawatir karena hewan kurban dipastikan sehat dan layak konsumsi,” pungkasnya.(mus)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan