RADAR SURABAYA – Tahu dan tempe yang selama ini menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, kini mengalami perubahan signifikan. Ukurannya kian mengecil seiring melonjaknya harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama. Kondisi ini dirasakan langsung oleh para perajin tahu dan tempe di berbagai daerah, termasuk di Jawa Timur.
Kenaikan harga kedelai impor dipicu oleh fluktuasi harga global serta dampak konflik di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut membuat biaya produksi meningkat tajam, sehingga para perajin terpaksa menyiasatinya dengan memperkecil ukuran produk agar tetap bisa bertahan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, Heru Suseno kepada Radar Surabaya mengungkapkan Pada tahun 2025, produksi kedelai Jatim tercatat mencapai 40.972 ton. Sementara pada tahun 2026 hingga Maret, produksi diperkirakan baru mencapai 567,71 ton.
“Luas panen kedelai hingga Maret 2026 sekitar 318,4 hektare, dengan produktivitas sementara 1,783 ton per hektare, masih mengacu pada capaian tahun sebelumnya,” ujar Heru, Rabu (15/4).
Diketahui kebutuhan kedelai nasional terbesar berada di Pulau Jawa yang mencapai sekitar 60 persen, terutama untuk memenuhi kebutuhan industri tahu dan tempe. Jawa Timur sendiri menjadi penyumbang terbesar produksi kedelai nasional dengan kontribusi sekitar 40 persen. Jawa Timur masih menjadi andalan sebagai pusat pertumbuhan kedelai nasional, meskipun produksinya belum optimal.
Baca Juga: Dua Tahun Beroperasi, Penjual Beras SPHP Palsu di Probolinggo Dibongkar Polda Jatim
Rendahnya produktivitas kedelai dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Selain karena kedelai merupakan tanaman subtropis yang hanya optimal ditanam pada musim kemarau di wilayah tropis, minat petani juga masih rendah.
“Petani kurang intensif dalam budidaya karena harga jual kedelai dinilai kurang menarik dibandingkan komoditas lain," katanya.
Baca Juga: Siswi Ciputat Dilaporkan Hilang Sejak Januari, Diduga Dibawa Pacar ke Surabaya
Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur, Erivina Lucky Kristian, menegaskan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai masih sangat tinggi.
“Sekitar 80 hingga 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi dari impor, dengan Amerika Serikat sebagai pemasok utama. Kedelai impor tersebut mayoritas digunakan sebagai bahan baku industri tahu dan tempe,” ujarnya.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Evaluasi WFH, Dorong ASN Beralih ke Transportasi Umum
Data Disperindag Jatim menunjukkan bahwa meski ketergantungan impor tinggi, aktivitas ekspor kedelai dari Jawa Timur tetap berlangsung. Pada 2023, ekspor mencapai 2.040.860 kilogram dengan nilai USD 998.151. Tahun 2024 turun menjadi 1.902.635 kilogram senilai USD 864.375, dan kembali meningkat pada 2025 menjadi 2.594.950 kilogram dengan nilai USD 941.459.
Negara tujuan ekspor didominasi oleh Timor Leste sebesar 2.594.650 kilogram dengan nilai USD 940.824, serta Brunei Darussalam sebesar 300 kilogram senilai USD 634.
Baca Juga: Liverpool Siap “Cuci Gudang” Musim Panas 2026, Arne Slot: Harus Jual untuk Beli
Di sisi lain, volume impor kedelai Jawa Timur masih jauh lebih besar. Pada 2023, impor mencapai 749.123.908 kilogram dengan nilai USD 486,1 juta. Tahun 2024 meningkat menjadi 915.029.546 kilogram senilai USD 477,8 juta, dan pada 2025 tercatat 801.480.406 kilogram dengan nilai USD 371,9 juta.
Amerika Serikat menjadi pemasok terbesar dengan volume 699.822.720 kilogram senilai USD 325,6 juta. Disusul Kanada sebesar 100.499.969 kilogram (USD 45,8 juta), serta negara lain seperti Bolivia, Afrika Selatan, hingga Singapura dalam jumlah yang relatif kecil.
Baca Juga: Ini Sanksi Jukir Liar yang Palak Rombongan Peziarah di Taman Bungkul Surabaya
Kondisi ketergantungan impor yang tinggi ini dinilai turut memengaruhi harga kedelai di tingkat konsumen. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku industri, tetapi juga masyarakat luas yang kini harus menerima kenyataan ukuran tahu dan tempe yang semakin kecil di pasaran. (mus/gun)
Editor : Guntur Irianto