RADAR SURABAYA — Perajin besek bambu di Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, terus bertahan di tengah perubahan tren pasar dengan mengandalkan inovasi produk dan strategi pemasaran modern.
Kerajinan besek berbahan baku bambu ini tetap diminati masyarakat karena mampu beradaptasi dengan kebutuhan konsumen yang semakin beragam, mulai dari desain hingga fungsi.
Salah satu perajin, Indah, mengungkapkan bahwa inovasi menjadi kunci utama agar produk besek tetap eksis di pasaran.
Selain itu, pemasaran dilakukan secara daring melalui media sosial dan secara luring di pasar lokal.
“Dulu bentuknya sederhana, hanya kotak polos tanpa variasi. Sekarang kami terus berinovasi dengan berbagai bentuk dan warna agar lebih menarik,” ujar Indah, Minggu (5/4) dikutip dari Antara.
Lonjakan Permintaan Saat Pandemi COVID-19
Menariknya, saat pandemi COVID-19, permintaan besek justru meningkat tajam. Produk ini banyak digunakan sebagai wadah makanan untuk dibawa pulang karena dinilai lebih ramah lingkungan.
“Waktu pandemi, pesanan justru ramai. Dari situ kami mulai mengembangkan desain,” katanya.
Baca Juga: Gunung Semeru Kembali Erupsi, Awan Panas Meluncur Sejauh 3 Kilometer
Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pengurangan plastik, besek bambu kini semakin diminati sebagai alternatif kemasan yang lebih ekologis.
Desain Variatif, Sesuai Selera Konsumen
Kini, besek tidak lagi identik dengan bentuk kotak sederhana. Para perajin menghadirkan berbagai inovasi, seperti:
Besek dengan pegangan, Model jinjing, Warna-warna cerah dan kombinasi unik, Desain custom sesuai permintaan pelanggan.
Indah mengaku telah menciptakan lebih dari tujuh desain berbeda dengan tingkat kesulitan yang bervariasi.
Salah satu yang paling rumit adalah besek kecil dengan tambahan pegangan karena membutuhkan ketelitian tinggi dalam proses anyaman.
“Ada juga pesanan berdasarkan contoh gambar dari konsumen. Dari situ kami ikut belajar dan berkembang,” ujarnya.
Dari sisi harga, besek bambu Magetan tergolong terjangkau. Untuk ukuran kecil dijual mulai Rp4.000 per buah, sedangkan ukuran besar atau desain khusus bisa mencapai Rp20.000, tergantung tingkat kesulitan.
Dalam sehari, produksi bisa mencapai puluhan unit. Untuk pesanan khusus, pengerjaan dilakukan sesuai permintaan. Indah juga memberdayakan warga sekitar dengan menampung hasil anyaman mereka untuk dipasarkan.
Bahan Baku Melimpah, Pasar Semakin Luas
Ketersediaan bambu yang melimpah di wilayah Magetan menjadi faktor penting keberlanjutan industri ini.
Bahan baku diperoleh dengan mudah, baik dengan membeli maupun mengambil langsung dari sekitar desa.
Dari sisi pemasaran, produk besek tidak hanya beredar di pasar lokal, tetapi juga telah menembus pasar luar daerah melalui penjualan langsung dan platform digital.
Kabupaten Magetan dikenal sebagai salah satu sentra industri anyaman bambu terbesar di Jawa Timur.
Tercatat sekitar 5.700 unit usaha kerajinan berkontribusi hingga 85,69 persen terhadap perekonomian daerah.
Sejumlah wilayah yang menjadi pusat produksi antara lain: Desa Ringinagung, Desa Nitikan, Desa Durenan (sentra besek bambu).
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan