Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dindik Jawa Timur Dukung Rencana Pemerintah Pusat Batalkan Wacana Sekolah Daring, Ini Alasannya

Mus Purmadani • Rabu, 25 Maret 2026 | 13:49 WIB
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai memberikan penjelasan kepada wartawan. (IST)
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai memberikan penjelasan kepada wartawan. (IST)

 

RADAR SURABAYA – Pemerintah memastikan tidak akan menerapkan pembelajaran dalam jaringan (daring) bagi siswa di tengah kekhawatiran dampak krisis energi akibat konflik Timur Tengah. Sebelumnya, wacana pembelajaran daring sempat mencuat sebagai langkah antisipasi terhadap potensi krisis energi imbas ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dan Iran. Namun, pemerintah memutuskan proses belajar mengajar tetap dilakukan secara tatap muka (luring).

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menegaskan bahwa keberlangsungan pendidikan harus tetap optimal dan tidak boleh menimbulkan learning loss.  Ia menyampaikan, pemerintah telah berkoordinasi dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah serta Menteri Agama untuk memastikan kebijakan yang diambil tetap berpihak pada kualitas pendidikan.

Baca Juga: Tak Temukan Uang saat Mencuri, Pemuda Asal Sawahan Surabaya Malah Gasak Anak Tetangga

“Pentingnya menjaga kualitas pendidikan siswa, pembicaraan lintas kementerian bahwa pembelajaran daring bagi siswa tidak menjadi sebuah urgensi saat ini,” ujar Pratikno.

Menurutnya, sektor pendidikan harus tetap berjalan normal meskipun ada potensi dampak global. Oleh karena itu, pembelajaran luring menjadi pilihan utama agar proses belajar siswa tetap efektif dan terpantau.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai turut menanggapi wacana tersebut. Ia menegaskan mayoritas kepala sekolah di Jawa Timur menginginkan kegiatan belajar mengajar tetap dilakukan secara tatap muka.

Aries menilai pengalaman selama pandemi Covid-19 menjadi pelajaran penting, di mana pembelajaran daring berdampak pada penurunan kualitas akademik serta meningkatnya kenakalan remaja akibat minimnya pengawasan.

Baca Juga: Tangis dan Tawa Warnai Lebaran Denada Bersama Ressa Rizky Rossano dan Keluarga Besar

“Kalau bisa tetap luring. Karena setengah hari siswa berada di sekolah dengan pengawasan guru. Kalau full di rumah, pengawasan bisa berkurang,” ungkapnya.

Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan adanya skema terbatas jika kebijakan efisiensi energi mengharuskan penerapan work from home (WFH). Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pembelajaran daring maksimal satu hari dalam sepekan.

Namun, Aries menegaskan kebijakan tersebut tidak akan diterapkan pada hari Jumat untuk menghindari learning loss yang berkepanjangan. “Masih kami formulasikan. Tapi prinsipnya pendidikan jangan sampai terdampak,” pungkasnya. (*)

Editor : Lambertus Hurek
#work from home #jawa timut #sekolah dari rumah #belajar tatap muka #wfh #dinas pendidikan #sekolah daring