RADAR SURABAYA – Harga beras di Jawa Timur masih terpantau mengalami kenaikan pada awal tahun 2026, terutama menjelang bulan Ramadan. Kondisi ini dipicu oleh menurunnya produksi pada awal tahun serta meningkatnya permintaan masyarakat selama periode Ramadan.
Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur per 12 Maret 2026 pukul 12.31 WIB, harga beras medium di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur rata-rata mencapai Rp12.905 per kilogram.
Kenaikan harga beras ini dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah proyeksi penurunan produksi beras pada periode Februari hingga April 2026 dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Selain itu, kondisi cuaca yang tidak menentu juga berdampak pada produktivitas pertanian di sejumlah wilayah.
Di sisi lain, meningkatnya kebutuhan masyarakat selama bulan Ramadan turut mendorong kenaikan harga beras di pasaran.
Meski demikian, secara umum kinerja sektor pertanian di Jawa Timur sepanjang 2025 menunjukkan capaian positif, khususnya pada subsektor tanaman pangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat luas panen padi pada 2025 mencapai 1,84 juta hektare.
Angka tersebut meningkat sekitar 0,22 juta hektare atau 13,88 persen dibandingkan luas panen padi pada 2024 yang tercatat 1,62 juta hektare.
Peningkatan luas panen tersebut berdampak pada naiknya produksi padi di Jawa Timur. Sepanjang 2025, produksi padi tercatat mencapai 10,44 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat sekitar 1,17 juta ton atau 12,60 persen dibandingkan produksi pada 2024 yang sebesar 9,27 juta ton GKG.
Kenaikan juga terjadi pada produksi beras untuk konsumsi masyarakat. Pada 2025, produksi beras di Jawa Timur mencapai 6,03 juta ton, meningkat 0,67 juta ton atau 12,60 persen dibandingkan produksi beras pada 2024 yang tercatat sebesar 5,35 juta ton.
Menanggapi kenaikan harga beras tersebut, Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur Khusnul Khuluq meminta pemerintah daerah melalui dinas terkait untuk melakukan pengawasan lebih ketat terhadap harga di pasaran
Berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian, stok beras di Jawa Timur sebenarnya masih dalam kondisi aman. Karena itu, pengendalian harga di tingkat pasar perlu diperkuat agar tidak melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
“Info dari Dinas Pertanian kan stoknya aman. Seharusnya yang terkait bisa mengontrol harga pasar ini supaya tidak melebihi HET, baik dari dinas perdagangan maupun perindustrian dengan memantau langsung pasar-pasar,” ujarnya, Kamis (12/3).
Politisi PKS itu juga mengingatkan agar kenaikan harga bahan pokok tidak semakin membebani masyarakat, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri ketika kebutuhan rumah tangga meningkat.
“Jangan sampai masyarakat terbebani menjelang Lebaran. Kasihan masyarakat karena hampir semua komoditas bahan pokok mengalami kenaikan,” katanya.
Khusnul juga mengungkapkan bahwa di sisi petani terdapat sejumlah kendala produksi di beberapa daerah. Sejumlah wilayah dilaporkan mengalami gagal panen akibat cuaca ekstrem seperti hujan dan banjir, serta serangan hama.
“Di beberapa daerah ada yang gagal panen karena hujan, banjir, dan berbagai macam hama. Termasuk tikus yang di Jember cukup merajalela,” jelasnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek