RADAR SURABAYA - Karnaval budaya yang digelar di Desa Medali, Kecamatan Puri, Mojokerto, mendadak viral dan menjadi sorotan publik. Medali Spectacular Carnival (MSC) 2026, yang berlangsung sejak Sabtu (14/2) pukul 14.00 WIB hingga dini hari, viral di media sosial karena menghadirkan puluhan set sound horeg dengan dentuman keras yang terdengar hingga subuh.
Alih-alih menuai pujian, acara ini justru memicu protes warga dan warganet yang menilai suara menggelegar mengganggu waktu ibadah dan ketenangan warga sekitar.
Karnaval diikuti 32 regu yang terdiri dari RT, Karang Taruna, UMKM, hingga Pemerintah Desa Medali.
Setiap regu membawa satu set sound horeg lengkap dengan penampilan penari populer seperti Icha Chellow, Viona Angeline, dan Dhesy Angga.
Suasana semula meriah berubah menjadi kontroversi ketika suara dentuman dilaporkan terdengar hingga ke desa tetangga.
Sejumlah warganet meluapkan kekesalan di media sosial. “Boleh ya min acara 24 jam, yang lain kok tidak boleh, ada apa ini, acara khusus bagi warga yang budek,” tulis akun @wul***.
Kritik lain datang dari akun @nov*** yang menilai suara sound horeg bahkan bersaing dengan azan subuh. “Azan ambek horeg podo lomba saut-sautan,” keluhnya.
Dana Fantastis dan Tujuan Acara
Kepala Desa Medali, Miftahuddin, membenarkan acara molor dari jadwal. Ia mengungkapkan biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 1,6 miliar, berasal dari iuran masyarakat dan sumbangan pelaku UMKM lokal.
“Kalau rata-rata Rp 50 juta per peserta, tinggal dikalikan 32 peserta, Rp 1,6 miliar,” jelasnya.
Miftahuddin menambahkan, MSC bertujuan melestarikan budaya sekaligus mengenalkan Desa Medali sebagai sentra alas kaki.
“Medali Spectacular Carnival untuk melestarikan budaya dan sejarah. Paling penting output kami mengenalkan Desa Medali sebagai sentra alas kaki, wujud rasa syukur, dan doa untuk leluhur,” ujarnya.
Kapolsek Puri, AKP Sutakat, menyebut izin keramaian sebenarnya hanya diberikan hingga pukul 23.00 WIB.
Namun, karena jumlah peserta terlalu banyak dan terjadi kendala teknis seperti kabel listrik rendah serta truk mogok, acara molor hingga pukul 04.30 WIB.
“Kami sudah sampaikan ke panitia kalau waktunya habis, tapi mereka belum selesai. Akhirnya kami komunikasi dengan panitia dan masyarakat, lalu acara dilanjutkan,” katanya.
Polisi menegaskan evaluasi akan dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang. “Itu menjadi evaluasi, nanti kami sampaikan ke polres. Mudah-mudahan ada evaluasi ke depannya supaya tidak seperti ini lagi,” tegas AKP Sutakat.
Pihak desa mengaku dilema jika harus menghentikan acara di tengah jalan. “Harusnya selesai jam 12 malam, tapi molor sampai jam 04.30. Kalau kami setop karnavalnya, malah kami diprotes peserta. Karena mereka persiapan habis banyak ternyata diberhentikan,” tandas Miftahuddin.
Warganet pun tak tinggal diam, mereka beramai-ramai mengomentari dan memprotes kegiatan tersebut.
“Sheila on 7 aja konsernya pernah distop ama polisi karna jam malem, masa kek ginian dibiarin,” tulis akun @dan***.
“Terkenal karna kemajuan. Terkenal karna kemundura,” komentar akun @ria***.
“Gak mikir apa ya, bayi gimana, orang sakit gimana, lansia gimana... Kebetulan ini lewat volume HP besar aja gak kuat gendang telinga, kalo denger langsung kayak apa tu,” tulis akun @rik***.
“KUHP baru kan sdh mengatur,” komentar akun @riz***.
“Sampe kedengaran bahkan beda kecamatan,” koemntar akun @jua***.
Meski acara digelar untuk memperkenalkan potensi desa dan melestarikan tradisi, dentuman sound horeg hingga subuh memicu perdebatan soal batas hiburan, penghormatan terhadap waktu ibadah, dan ketenangan warga.
Acara yang menghadirkan sound horeg dan memicu protes luas bukan kali ini saja, namun sudah sangat sering terjadi. (dtk/nur)
Editor : Nurista Purnamasari