RADAR SURABAYA — Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen menegaskan bahwa target swasembada gula nasional tidak bisa dicapai hanya dengan menambah luas lahan tebu atau ekstensifikasi. Menurutnya, langkah paling mendesak justru meningkatkan produktivitas lahan yang sudah ada melalui intensifikasi.
Soemitro mengungkapkan, saat ini produktivitas gula nasional masih sangat rendah. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, rata-rata produktivitas gula Indonesia hanya sekitar 4,74 ton per hektare. Angka tersebut jauh tertinggal dibandingkan capaian historis Indonesia pada 1929, ketika produktivitas mencapai 15 ton per hektare dan Indonesia tercatat sebagai eksportir gula terbesar kedua di dunia.
“Dulu dengan luas lahan sekitar 200 ribu hektare, Indonesia mampu menghasilkan tiga juta ton gula. Sekarang luas areal sudah mencapai sekitar 550 ribu hektare, tetapi produksinya hanya sekitar 2,7 hingga 2,8 juta ton karena produktivitas menurun drastis,” jelasnya kepada Radar Surabaya, Minggu (11/1).
Ia menambahkan, jika produktivitas gula dapat dikembalikan ke 15 ton per hektare, Indonesia berpotensi memproduksi lebih dari 8 juta ton gula per tahun. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi dan industri nasional tanpa harus bergantung pada impor, bahkan membuka peluang ekspor.
Karena itu, Soemitro menekankan pentingnya kebijakan yang benar-benar berpihak kepada petani tebu. Mulai dari kemudahan akses permodalan dengan bunga rendah, ketersediaan dan distribusi pupuk sesuai kebutuhan tanaman, penyediaan air melalui irigasi maupun sumur dalam, hingga perbaikan tata kelola lahan tebu di daerah.
Selain faktor produksi, ia juga menyoroti kebijakan harga gula di pasar. Menurutnya, harga gula tidak perlu terlalu dibatasi agar dapat memberikan insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi.
“Biarkan harga terbentuk oleh mekanisme pasar. Pemerintah cukup menjaga harga dasar. Kalau harganya menarik, petani akan lebih bersemangat menanam dan merawat tebu dengan baik,” tegasnya.
Soemitro menilai, selama produktivitas masih rendah dan petani belum mendapatkan dukungan maksimal. (mus/gun)
Editor : Guntur Irianto