RADAR SURABAYA — Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) dipercepat sebagai bagian dari pengembangan transportasi publik berbasis energi hijau di kawasan Surabaya Raya. Proyek strategis ini menjadi salah satu fokus utama kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Jerman.
Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur Nyono mengatakan, meski kerja sama dengan Jerman mencakup berbagai sektor, perhatian utama saat ini diarahkan pada percepatan realisasi SRRL. Hal tersebut dibahas dalam pertemuan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dengan Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (9/1).
“Kerja sama dengan Jerman memang banyak faktor yang dibicarakan. Tapi, yang paling penting adalah bagaimana kelanjutan SRRL. Tadi sudah hadir perwakilan Kementerian Perhubungan, Ditjen Perkeretaapian, serta PT KAI Daop 8 Surabaya,” ujar Nyono.
Ia menjelaskan, pada akhir Januari akan dilakukan penandatanganan kontrak Detail Engineering Design (DED) sebagai penanda finalisasi desain perencanaan proyek, khususnya untuk Koridor 1A dan 1B. “Desain perencanaan lengkap Koridor 1A dan 1B akan ditandatangani oleh Satker Ditjen Perkeretaapian Kemenhub di Jakarta,” jelasnya.
Menurut Nyono, SRRL merupakan proyek pemerintah pusat sekaligus proyek percontohan pengembangan transportasi publik berbasis green energy di enam kota besar Indonesia. Untuk Surabaya Raya, progres dinilai relatif lebih cepat dan agresif dibanding daerah lain.
“Surabaya Raya ini lebih siap dan lebih cepat. Mudah-mudahan kontrak fisiknya sesuai jadwal. Insya Allah, tahun 2027–2028 pembangunan fisik kereta listrik ini sudah bisa terlihat,” katanya.
Pada tahap awal, Koridor 1A dengan rute Gubeng–Wonokromo–Sidoarjo akan direalisasikan lebih dulu. Koridor 1B rute Gubeng–Pasar Turi masih terkendala persoalan pembebasan lahan dan relokasi warga.
“Kita dahulukan Koridor 1A karena Koridor 1B masih ada persoalan pembebasan lahan di kanan kiri jalur kereta api,” ungkapnya.
SRRL akan dibangun dengan konsep double track at grade, yakni pelebaran jalur ke samping, bukan jalur layang. Satu jalur eksisting akan ditambah satu jalur baru khusus untuk kereta listrik perkotaan.
Untuk tahap pertama, proyek ini membutuhkan anggaran sekitar Rp 5,4 triliun seluruhnya bersumber dari pinjaman luar negeri berbunga rendah melalui kerja sama Kementerian Keuangan RI dan KfW Development Bank Jerman. “Tahap pertama tidak elevated karena masih memanfaatkan lahan PT KAI,” terangnya.
Sementara itu, Duta Besar Jerman untuk Indonesia Ralf Beste menegaskan komitmen negaranya dalam mendukung pengembangan transportasi publik di Surabaya dan Jawa Timur. Menurutnya, peningkatan layanan transportasi massal merupakan game changer penting sekaligus bagian dari upaya menghadapi perubahan iklim.
“Kami berkomitmen mendukung Jawa Timur dan Surabaya dalam meningkatkan transportasi publik, pengelolaan sampah, sektor kesehatan, serta kerja sama jangka panjang lainnya,” ujarnya. (mus)
Editor : Lambertus Hurek